Selain banyak warga bekerja di sektor informal, sebagian responden juga enggan terbuka karena khawatir informasi pendapatan berkaitan dengan pajak. Padahal, ia menegaskan pendataan tersebut tidak berkaitan dengan penetapan pajak.
Hal serupa ditemukan ketika warga ditanya soal kepemilikan aset. Ada responden yang mengaku tidak memiliki aset, tetapi setelah datanya dipadankan dengan informasi dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), kepemilikan aset justru terdeteksi.
“Itu banyak yang bicara tidak jujur, tidak memiliki aset. Setelah di-cross check dengan BPN (Badan Pertanahan Nasional), oh punya aset di mana-mana,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Arrief sekaligus meluruskan anggapan bahwa satu jenis aset atau besaran penghasilan tertentu, otomatis menentukan posisi desil seseorang.
Menurutnya, kepemilikan sepeda motor tidak otomatis membuat seseorang masuk kelompok desil tinggi. Begitu pula warga dengan penghasilan Rp3 juta per bulan belum tentu langsung masuk desil tertentu.

NOW ON AIR SSFM 100

