Menurut Adi, pekerjaan fisik di Jalan Moestopo baru bisa dilakukan pada malam hari, mulai sekitar pukul 21.00 WIB hingga 05.00 WIB. Karenanya, ia juga meminta maaf jika pembangunan tersebut berdampak pada lalu lintas beberapa waktu ke depan.
“Jadi sebelumnya kami mohon maaf atas gangguan-gangguan (dari) pembangunan yang ada di Moestopo. Memang pembangunan Moestopo itu tidak bisa dilakukan 24 jam berkaitan dengan dampak-dampak lalu lintasnya, dan izin yang sudah dikeluarkan oleh teman-teman dari kepolisian juga. Kami baru bisa running itu memang di atasnya jam 9 malam sampai selesai jam 5 pagi seperti itu,” kata Adi.
Sementara Hidayat Syah Kepala DSDABM Kota Surabaya mengatakan, Pemkot memahami keluhan warga terkait kemacetan akibat proyek tersebut. Namun, menurutnya, pembangunan saluran tetap harus dilakukan karena menjadi bagian dari penanganan banjir di kawasan sekitar.
Ia menyebut, pemkot berupaya menjawab permintaan warga agar persoalan genangan segera ditangani. “Jadi kan kita akan akan memberikan atensi permintaan masyarakat bahwa ini harus dibangun. Jadi kami sudah membangun tapi juga membangun kan juga perlu waktu,” ujarnya.
Terkait kemungkinan mempercepat pengerjaan hingga 24 jam, Hidayat menyebut hal itu bergantung pada kepolisian. Jika kepolisian memberi kelonggaran jam kerja lebih panjang, pengerjaan bisa lebih cepat.
Harapannya, setelah proyek box culvert itu selesai di bangun, dapat mengurangi genangan di Karang Menjangan dan sekitarnya. “Insyaallah, karena kan sudah besar salurannya,” kata Hidayat. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

