Jumat, 25 September 2026

Hadapi El Nino, Akademisi Nilai Modifikasi Cuaca Lebih Efektif Sebelum Kekeringan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, Guru Besar Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga mantan Kepala BMKG Pusat waktu megudara di Radio Suara Surabaya. Foto: Dok suarasurabaya.net

Awan dengan tingkat kejenuhan air di atas 70 persen dapat diberi zat tertentu untuk mempercepat kondensasi, sehingga hujan turun di wilayah yang dibutuhkan. Karena itu, modifikasi cuaca dapat diarahkan untuk mengisi waduk di daerah yang diprediksi mengalami kekeringan, maupun membasahi lahan gambut.

“Namun saat El Nino, sudah tidak ada awan hujan, tidak ada media yang bisa diturunkan karena awannya sudah enggak ada. Kalau masih ada awan itu bisa. Jadi sebaiknya untuk daerah-daerah yang diprediksi akan kering, itu waduk-waduknya diisi dari awan-awan hujan yang diturunkan dengan modifikasi cuaca,” bebernya.

Masalah muncul ketika El Nino sudah berlangsung. Fenomena tersebut membuat pembentukan awan hujan di Indonesia berkurang sehingga media utama untuk melakukan modifikasi cuaca juga semakin sedikit.

Secara teori, Dwikorita mengatakan teknologi flare masih dapat digunakan untuk membantu proses pembentukan hujan. Metode penyemaian awan dengan membakar suar berisi partikel higroskopis seperti garam khusus tersebut juga telah diterapkan di sejumlah negara, termasuk Malaysia.

Namun, ia mengakui penerapannya menghadapi tantangan besar karena membutuhkan biaya tinggi. “Secara teori, secara teori modifikasi cuaca pakai flare itu bisa. Tapi biaya tinggi, kurang efektif,” ujarnya.

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Jumat, 25 September 2026
26o
Kurs