Jumat, 25 September 2026

Hadapi El Nino, Akademisi Nilai Modifikasi Cuaca Lebih Efektif Sebelum Kekeringan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, Guru Besar Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga mantan Kepala BMKG Pusat waktu megudara di Radio Suara Surabaya. Foto: Dok suarasurabaya.net

“Nah, ini akan sulit dipadamkan bila air sudah sulit. Oleh karena itu, kita harus hati-hati jangan dengan sengaja atau tidak sengaja menyulut api,” jelasnya.

Secara geologi, kekeringan ekstrem juga dapat membuat permukaan tanah retak, karena pori-porinya kehilangan kandungan air. Akibatnya tanah dapat sedikit mengalami amblesan apabila mendapat beban, meski penurunannya tidak signifikan.

“Tapi yang jelas tanah itu menjadi retak-retak karena kering tadi. Bukan turun kayak longsor gitu, bukan. Retak-retak, pecah karena kosong lalu sedikit ambles, tapi tidak begitu signifikan,” katanya.

Dwikorita juga menyoroti kecenderungan periode ulang El Nino yang semakin pendek. Berdasarkan data BMKG yang ia sampaikan, sebelum 1970 lalu, fenomena El Nino dan La Nina memiliki periode ulang sekitar lima hingga delapan tahun. Tapi, dalam beberapa dekade terakhir, jaraknya memendek jadi dua hingga lima tahun.

“Jadi yang tadinya lima tahun itu periode paling pendek, sekarang itu menjadi periode paling panjang dan yang terakhir tahun 2023 sudah terjadi El Nino. Sekarang 2026 baru 3 tahun,” ujarnya.

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Jumat, 25 September 2026
26o
Kurs