“Nah, ini akan sulit dipadamkan bila air sudah sulit. Oleh karena itu, kita harus hati-hati jangan dengan sengaja atau tidak sengaja menyulut api,” jelasnya.
Secara geologi, kekeringan ekstrem juga dapat membuat permukaan tanah retak, karena pori-porinya kehilangan kandungan air. Akibatnya tanah dapat sedikit mengalami amblesan apabila mendapat beban, meski penurunannya tidak signifikan.
“Tapi yang jelas tanah itu menjadi retak-retak karena kering tadi. Bukan turun kayak longsor gitu, bukan. Retak-retak, pecah karena kosong lalu sedikit ambles, tapi tidak begitu signifikan,” katanya.
Dwikorita juga menyoroti kecenderungan periode ulang El Nino yang semakin pendek. Berdasarkan data BMKG yang ia sampaikan, sebelum 1970 lalu, fenomena El Nino dan La Nina memiliki periode ulang sekitar lima hingga delapan tahun. Tapi, dalam beberapa dekade terakhir, jaraknya memendek jadi dua hingga lima tahun.
“Jadi yang tadinya lima tahun itu periode paling pendek, sekarang itu menjadi periode paling panjang dan yang terakhir tahun 2023 sudah terjadi El Nino. Sekarang 2026 baru 3 tahun,” ujarnya.

NOW ON AIR SSFM 100

