Senin, 10 Agustus 2026

Hadapi El Nino, Akademisi Nilai Modifikasi Cuaca Lebih Efektif Sebelum Kekeringan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, Guru Besar Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga mantan Kepala BMKG Pusat waktu megudara di Radio Suara Surabaya. Foto: Dok suarasurabaya.net

El Nino Menarik Awan Hujan Menjauh dari Indonesia

Pada kesempatan itu, Dwikorita juga menjelaskan bahwa El Nino terjadi akibat perubahan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian ekuator atau garis khatulistiwa tengah dan timur yang menjadi lebih hangat dibandingkan perairan Indonesia.

Perbedaan suhu tersebut membuat pembentukan awan hujan lebih terkonsentrasi di Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan. “Jadi seakan-akan awan-awan hujan itu lebih direbut ke wilayah sana, di Indonesia kita jadi kekurangan,” katanya.

Kondisi itulah yang kemudian memicu kekeringan dengan dampak luas, mulai ketersediaan air berkurang, produkti pertanian terganggu, hingga gagal panen berujung kenaikan harga pangan.

Kekurangan air juga berpotensi mengganggu kebutuhan sehari-hari dan sanitasi. Pada saat bersamaan, udara yang semakin kering dan minimnya hujan dapat meningkatkan polusi serta risiko penyakit, termasuk gangguan saluran pernapasan dan diare.

Selain itu, ancaman lain yang paling perlu diwaspadai adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), karena vegetasi yang mengering jadi semakin mudah terbakar.

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Senin, 10 Agustus 2026
32o
Kurs