Iran menetapkan tenggat waktu satu bulan untuk mencapai kesepakatan strategis dengan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali jalur vital energi dunia, Selat Hormuz.
Langkah ini sekaligus mencakup penghentian blokade maritim serta upaya mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan, termasuk di Iran dan Lebanon.
Laporan Axios pada Sabtu (2/5/2026) menyebutkan bahwa Teheran telah mengajukan proposal revisi berisi 14 poin kepada Washington pada Kamis (30/4).
Dokumen tersebut memuat kerangka negosiasi dengan batas waktu ketat, yakni satu bulan untuk mencapai kesepakatan awal.
Dua sumber yang mengetahui isi proposal itu mengungkapkan bahwa fokus utama mencakup pembukaan akses maritim di Selat Hormuz, penghentian blokade laut, serta kesepakatan gencatan senjata jangka panjang di kawasan konflik.
Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) merespons proposal tersebut dengan nada hati-hati. Ia menyatakan masih akan melihat perkembangan situasi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
“Jika mereka berperilaku buruk, jika mereka melakukan hal jahat, tapi sekarang kami akan lihat. Hal itu bisa terjadi, tentu saja,” ujar Trump saat ditanya mengenai kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran.
Dilansir dari Antara pada Minggu (3/5/2026), proposal Iran juga menetapkan bahwa tahap lanjutan perundingan hanya akan dilakukan jika kesepakatan awal tercapai dalam tenggat tersebut. Setelah itu, pembahasan akan difokuskan pada isu program nuklir Iran dengan tambahan waktu satu bulan.
Meski sebelumnya menyatakan ketidakpuasan terhadap isi proposal, Trump mengaku akan mempelajari lebih lanjut dokumen tersebut.
“Mereka telah menyampaikan kepada saya tentang konsep kesepakatannya. Mereka akan menyampaikan pernyataan persisnya saat ini,” katanya.
Namun, melalui platform Truth Social, Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap Iran. Ia menilai Teheran belum menanggung konsekuensi yang cukup besar atas berbagai tindakan yang disebutnya berdampak terhadap kemanusiaan selama puluhan tahun.
Dalam pernyataan terpisah kepada media, Trump juga menyebut kebijakan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai langkah yang “sangat bersahabat”, sekaligus menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak bertentangan dengan klaimnya mengenai meredanya permusuhan. (ant/saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

