Kamis, 24 September 2026

Ketika Influenza A “Berkolaborasi” dengan Polusi Udara

Laporan oleh Tim Redaksi
Bagikan
Karhutla melanda blok Ranu Kembang di kawasan Gunung Semeru pada Rabu (26/8/2026) sore kemarin. Foto: Istimewa

Karhutla
Indonesia bukan satu-satunya negara yang kewalahan menghadapi problem musiman tersebut. Di berbagai belahan dunia, mulai Eropa, Asia, Australia, Afrika, hingga Amerika, negara-negara menghadapi krisis karhutla dan polusi udara.

Perubahan iklim dan gelombang panas ekstrem memantik ‘musibah ekologi’.

Karhutla dan perubahan iklim bagaikan dua sisi fenomena interaktif yang membentuk lingkaran setan. Krisis iklim, cuaca ekstrem, dan fenomena El Nino memicu timbulnya karhutla. Sebaliknya, karhutla mengakibatkan efek rumah kaca dan memperparah krisis iklim.

Dampak berantai tersebut memantik perubahan ekologi hingga merugikan eksistensi makhluk hidup. Tidak hanya manusia, flora, dan fauna yang terdampak, tetapi juga siklus evolusi mikroba.

Beragam mikroba, khususnya virus, bisa ‘marah besar’. Mutasi menjadi patogen yang lebih berbahaya merupakan salah satu pilihan adaptif. Virus mutan berpotensi membentuk ‘wajah baru’ yang belum dikenali sistem imun manusia. Risiko bahayanya pun meningkat.

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 24 September 2026
27o
Kurs