Kamis, 24 September 2026

Ketika Influenza A “Berkolaborasi” dengan Polusi Udara

Laporan oleh Tim Redaksi
Bagikan
Karhutla melanda blok Ranu Kembang di kawasan Gunung Semeru pada Rabu (26/8/2026) sore kemarin. Foto: Istimewa

Perubahan iklim dan polusi udara merupakan faktor permisif terjadinya mutasi dan penyebaran virus influenza. Sejatinya, mutasi virus influenza terjadi karena ‘kesalahan’ replikasi gen. Namun, faktor lingkungan mampu menciptakan kondisi ideal untuk mempercepat proses mutasi.

Terkini, kualitas udara di sejumlah daerah terdampak karhutla dikategorikan sangat tidak sehat. Bahkan, indeks kualitas udara di Palangkaraya dan beberapa wilayah Kalimantan lainnya menembus level berbahaya atau kategori hitam.

Kontributor polutif utamanya adalah PM2,5 dan PM10.

Istilah PM (Particulate Matter) merujuk pada campuran partikel padat dan cair yang berada di udara. Bentuknya antara lain debu, kotoran, jelaga, dan asap. Ukurannya sangat kecil, sekitar 2,5 mikron (mikrometer), lebih kecil dari tiga persen ukuran rambut manusia.

Selain PM2,5 dan PM10 yang berukuran 10 mikron, terdapat sejumlah komponen polutif lain yang berbahaya, seperti karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2).

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 24 September 2026
27o
Kurs