Sebab, rangkaian kegiatan Piala Dunia tidak hanya meningkatkan konsumsi masyarakat, tetapi juga mendorong investasi pelaku usaha. Di antaranya pembelian perangkat televisi, proyektor, set-top box, sistem audio, penambahan kapasitas tempat duduk, serta fasilitas layanan makanan dan minuman.
Dampak tersebut sejalan dengan pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman. Dalam laporan yang dikutip Kadin, sektor tersebut tumbuh 13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026 dan menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi.
Sementara itu, survei Lokadata pada 7-13 Juli 2026 menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat turut memperkuat dampak ekonomi dari penyiaran Piala Dunia 2026. Suwandi Ahmad Chief Data Officer Lokadata mengatakan, survei tersebut menunjukkan manfaat ekonomi Piala Dunia mengalir hingga ke tingkat komunitas.
Sebanyak 78,1 persen responden mengikuti kegiatan nonton bareng sedikitnya satu kali selama turnamen. Rata-rata pengeluaran peserta mencapai sekitar Rp51 ribu setiap kegiatan, atau sekitar Rp145 ribu per orang selama turnamen.
“Sebagian besar pengeluaran itu digunakan untuk membeli makanan dan minuman, paket data, serta berbagai kebutuhan pendukung lainnya, sehingga manfaat ekonominya banyak dirasakan oleh pelaku UMKM,” kata Suwandi. (ant/bil)

NOW ON AIR SSFM 100

