Nama Kuda Troya mungkin sudah akrab di telinga, tapi tidak dengan nasib sang konseptor utamanya. Lewat ‘The Odyssey’, Christopher Nolan sang sutradara tidak lagi mengulas megahnya perang, melainkan menyeret penonton masuk ke dalam takdir tragis sang penggagas taktik, Odysseus.
Pasca-kesuksesan besar Oppenheimer, Nolan membawa penonton menyelami dunia mitologi Yunani kuno. Perjuangan Odysseus dan pasukannya ternyata tidak terhenti sesudah memenangkan perang di Troya. Mereka masih harus bertaruh nyawa di perjalanan pulang, menghindari maut yang ditakdirkan para dewa.
Dibuka dengan adegan ‘nyanyian Odysseus’ sebagai pahlawan perang yang belum juga pulang ke Ithaca, para peminang sudah berkumpul untuk menikahi istri Odysseus, supaya bisa mengambil alih takhta. Meski di sana masih ada Thelemacus, putra Odysseus. Alur cerita selanjutnya tidak linear, tapi masih cukup nyaman untuk diikuti.

Nolan tidak secara mentah menampilkan kisah-kisah dan makhluk mitologi yang ditemui Odysseus. Tiap perhentian dan pertemuan bisa dimaknai sebagai wujud fisik dari pergolakan jiwa Odysseus sebagai veteran perang.

NOW ON AIR SSFM 100

