Indonesia Pickleball Federation (IPF) tengah memperluas ekosistem olahraga pickleball di Indonesia. Pengurus Besar IPF menargetkan pembinaan dan kompetisi pickleball tidak hanya berkembang di tingkat provinsi, tetapi menjangkau struktur organisasi hingga desa dan kecamatan.
Muhammad Nazaruddin Ketua Umum Pengurus Besar Indonesia Pickleball Federation (PB IPF) mengatakan, perkembangan pickleball dalam dua tahun terakhir menunjukkan tren yang semakin kuat di berbagai daerah. Karena itu, IPF kini fokus merapikan struktur organisasi sekaligus memperbanyak kompetisi di seluruh Indonesia.
“Pickleball memang lagi hit-hitnya di seluruh Indonesia. Dan kita memang lagi ngadain turnamennya di seluruh provinsi. Jadi bukan hanya di Jawa Timur tapi hampir semua provinsi,” kata Nazaruddin di sela Eastjava Pickleball Championship (EPC) Piala Gubernur Jawa Timur 2026 berlangsung di Surabaya, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, penguatan organisasi akan dilakukan secara bertahap. IPF menyiapkan kepengurusan di tingkat desa yang akan diikuti rangkaian turnamen pada Januari hingga Februari. Setelah itu, struktur di tingkat kecamatan akan diperkuat dengan agenda kompetisi sekitar Maret sampai Mei.
Tahapan berikutnya dilakukan di tingkat kabupaten pada Juni hingga Agustus, sebelum dilanjutkan dengan penguatan kepengurusan di tingkat provinsi.
Tidak berhenti pada kompetisi daerah, PB IPF juga menyiapkan lima turnamen nasional sebagai bagian dari pengembangan jenjang kompetisi pickleball di Indonesia.
Nazaruddin mengatakan, pembenahan struktur tersebut penting karena IPF ingin menjadikan pickleball sebagai olahraga yang mudah diakses masyarakat luas. Menurut dia, karakter pickleball yang relatif murah membuat olahraga ini memiliki peluang besar untuk berkembang hingga tingkat akar rumput.
“Kita lagi merapikan juga untuk struktur pickleball ini kan memang olahraga yang benar-benar merakyat,” ujarnya.
Setelah ekosistem kompetisi nasional semakin kuat, PB IPF mulai mengarahkan target ke level internasional. Atlet-atlet Indonesia dipersiapkan untuk mengikuti turnamen di kawasan Asia sebelum menembus kompetisi tingkat dunia.
“Kita lagi nyiapin untuk ajang-ajang internasional. Tapi memang kita membuat pickleball ini olahraga yang benar-benar murah tapi merakyat,” kata Nazaruddin.
Perkembangan pickleball juga mendapat momentum dari masuknya cabang olahraga tersebut dalam agenda Pekan Olahraga Nasional (PON). Nazaruddin menyebut masuknya pickleball ke PON merupakan salah satu target utama yang ingin diwujudkan selama kepemimpinannya.
“Kebetulan di PON nanti pickleball sudah masuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Jadi memang waktu saya jadi ketua umum target utamanya memang pickleball ini harus masuk di PON. Jadi itu udah beres,” jelasnya.
Menurut Nazaruddin, pickleball sebenarnya bukan olahraga baru di Indonesia. Cabang olahraga ini telah hadir sekitar tujuh hingga delapan tahun lalu, tetapi pertumbuhan lapangannya baru terlihat sangat pesat dalam sekitar dua tahun terakhir.
Di Jabodetabek, misalnya, saat ini telah terdapat sekitar 425 lapangan pickleball. Sementara di Jawa Timur, jumlahnya disebut telah mencapai lebih dari 500 lapangan.
Pertumbuhan tersebut juga terlihat dari perubahan fungsi sejumlah fasilitas olahraga. Nazaruddin mengatakan, beberapa pemilik lapangan yang sebelumnya menyediakan fasilitas untuk olahraga padel mulai mengalokasikan sebagian lapangannya untuk pickleball.
“Beberapa teman-teman yang sekarang punya lapangan itu padel yang dulu misalnya di situ ada lima-enam lapangan, diturunkan jadi padelnya cukup empat, terus sisanya dibuat pickleball,” ungkapnya.
Secara global, pickleball juga telah berkembang pesat, terutama di Amerika Serikat. Nazaruddin menyebut popularitas olahraga tersebut di sejumlah negara Asia seperti Singapura dan Malaysia juga cukup tinggi.
“Kalau kita nanya di Singapura, padel sama pickleball itu lebih populer pickleball. Di Malaysia juga kayak gitu,” katanya.
Di Indonesia, popularitas pickleball sebelumnya masih berada di bawah padel. Namun, PB IPF menargetkan kondisi tersebut berubah seiring dengan semakin masifnya kompetisi, pembinaan, dan pembangunan fasilitas.
Bagi Nazaruddin, pengembangan pickleball bukan semata-mata soal mencetak atlet berprestasi. Lebih jauh, olahraga tersebut diharapkan menjadi sarana untuk meningkatkan kebugaran masyarakat karena dapat dimainkan dengan biaya yang relatif terjangkau.
“Ke depan memang pickleball harus olahraga yang benar-benar merakyat. Dan ini menurut saya Indonesia mau maju ke depan harus rakyatnya semua sehat. Kalau mau sehat ya olahraganya pickleball,” pungkasnya. (saf/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

