Sabtu, 26 September 2020

Pakar Politik Menilai Pilkada Surabaya Sebaiknya Ada Calon Perempuan

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Andy Agung Prihatna (gambar di monitor) pakar politik sekaligus Direktur Index Indonesia saat menyampaikan paparannya pada diskusi virtual berjudul 'Pasca Risma, Surabaya Masih Butuh Sentuhan Perempuan?' pada Sabtu (08/08/2020). Foto: Istimewa

Empat bulan jelang Pilwali Surabaya 2020, bursa calon wakil wali kota kian memanas. Pertarungan bukan lagi soal siapa calon wali kota yang akan tampil, mengingat posisi ini hampir pasti milik Machfud Arifin yang bakal diusung koalisi besar Parpol dan kandidat dari PDIP.

Andy Agung Prihatna Direktur Index Indonesia menuturkan, jika akhirnya slot calon wali kota hanya diisi kandidat dari laki-laki, sebaiknya calon wakil dari kalangan perempuan. Mengingat dalam satu dekade, 2010-2020, Surabaya mencapai prestasi hebat bersama wali kota perempuan, Tri Rismaharini alias Risma.

“Kalau kemudian yang bertanding di Surabaya hanya laki-laki, itu alamat menafikkan histori secara empirik kepemimpinan perempuan selama satu dekade yang menunjukkan kemajuan luar biasa,” katanya dalam diskusi online, Minggu (9/8/2020).

“Sangat disayangkan kalau tidak ada satu pun di antara para kandidat yang perempuan. Terlalu ekstrem dari kepemimpinan perempuan langsung semua ke laki-laki,” sambung Agung berdasarkan rilis yang diterima suarasurabaya.net.

Terlebih, masyarakat Jatim bisa menerima perempuan sebagai pemimpin. Dari data yang dibeber Agung, tercatat ada 79 perempuan pemimpin pemerintahan diIndonesia. Rinciannya, gubernur (1), wakil gubernur (2), bupati/wali kota (43), dan wakil bupati/wakil wali kota (32).

Dari jumah ini, Jatim menyumbang perempuan pemimpin pemerintahan terbanyak, 13 orang. Rinciannya gubernur (1), bupati/wali kota (8), wakil bupati/wakil wali kota (4).

“Jatim nomor satu se-Indonesia. Ini artinya apa? Ya masyarakat Jatim maupun Surabaya menerima perempaun sebagai pemimpin,” tandas kepala Divisi Penelitian LP3ES 2005-2007 tersebut.

Hal sama ditegaskan Siti Nafsiyah Sekretaris DPD Lingkaran Pendamping Program Pemberdayaan (LPPP) Surabaya. Menurutnya, figur perempuan masih dibutuhkan untuk memimpin Surabaya.

Apalagi selama dua periode, Risma tak hanya membawa kemajuan bagi Surabaya tapi juga dicintai warganya. “Itu realitas yang tak bisa dipungkiri, karena Bu Risma bisa melayani dan mengayomi warganya,” katanya.

Karena itu, seyogiyanya pemimpin Surabaya pasca Risma tak seharusnya lepas dari sentuhan perempuan. Tapi karena situasi politik yang mengerucut calon wali kota semuanya laki-laki, maka perempuan bisa diplot sebagai calon wakil.

Lantas, sosok bagaimana calon wakil dari kalangan perempuan?

Menurut Agung, kombinasi yang ideal yakni keterwakilan dari nasionalis-agamis. Sebab, secara geografis Surabaya tidak bisa dilepaskan dari belahan sosial antara kultur nasionalis dan agamis.

“PDIP, misalnya. Bisa saja mencalonkan perempuan sebagai wali kota. Tapi kalau tidak, setidaknya perlulah perempuan yang diusung menjadi wakil wali kota,” tandasnya.

Demikian sebaliknya di kubu Machfud Arifin. Sebab, perempuan masih dibutuhkan mengingat aspek-aspek empirik, termasuk memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap kepentingan publik dibandingkan dengan laki-laki.

“Kalau Pak Machfud merasa seorang nasionalis, harusnya juga mengambi porsi yang berbasis agama, khususnya perempuan,” tandasnya.

Sementara Siti menyarankan, selain pertimbangan elektoral, calon wakil yang akan dipilih sebaiknya figur perempuan yang memiliki karakter kepemimpinan seperti Risma, yakni suka blusukan, melayani, dan mengayomi warganya.

“Dari kandidat perempuan di antaranya Lia Istifhama, Dwi Astuti, dan Reni Astuti, maupun Dyah Katarina. Kita bisa lihat sendiri siapa yang banyak turun ke pasar, kampung, PKK dan sebagainya. Sudah bisa kita lihat kok,” katanya.

Siti yakin, jika calon wali kota bisa menggandeng calon wakil yang memiliki popularitas, elektabilitas yang tinggi serta rajin melakukan penyapaan ke masyarakat, maka peluang menangnya lebih besar.

“Peluang calon wali kota memenangi Pilwali Surabayalebih besar, kalau menggandeng calon wakil dari perempuan. Tapi harapan saya, perempuan itu sudah terbukti melakukan penyapaan, berinteraksi, dan memberi manfaat kepada masyrakat,” tuntasnya.(tin)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Sabtu, 26 September 2020
34o
Kurs