“Hening untuk sekurang-kurangnya lima saudara kita yang telah gugur, Asmayadi Soleh, Suganda Siagian, Slamet, Uju bin Asep, dan Sariwan. Serta kita hening untuk 23 saudara kita yang hilang dan hingga saat ini tidak ada kepastian tentang nasibnya,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh hadirin mengenang 149 korban luka serta mereka yang selama tiga dekade hidup dengan trauma akibat tragedi tersebut.
“Hening untuk 149 yang terluka dan untuk semua yang memikul luka itu dalam diam selama 30 tahun,” lanjut Hasto.
Dalam pidatonya, Hasto menilai Kudatuli menjadi simbol bagaimana kekuasaan digunakan secara represif pada masa Orde Baru untuk membungkam suara politik yang berbeda.
“Sebab apa yang terjadi saat itu sangatlah dahsyat. Kekuasaan otoriter Orde Baru mencoba membunuh demokrasi, mematikan kemanusiaan, dan mengubur keadilan,” tegasnya.

NOW ON AIR SSFM 100

