Riyono mengaku telah mengingatkan Kementerian Kehutanan mengenai potensi karhutla pada 2026 yang dinilainya lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sebelum kejadian 2026 ini, dengan Kementerian Kehutanan saya sudah ingatkan potensi api 2026 ini lebih besar dibanding 2025. Ternyata betul kejadiannya sekarang,” kata dia.
Ia menyebut sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera mulai menghadapi persoalan kebakaran. Sementara di Jawa, kebakaran juga terjadi meski dalam skala lebih kecil, salah satunya di kawasan Gunung Lawu yang mencakup wilayah Ponorogo dan Trenggalek.
Selain faktor cuaca, Riyono menyoroti persoalan aktivitas manusia dan pemanfaatan kawasan hutan. Menurutnya, pembalakan liar, pemanfaatan kawasan hutan tanpa izin, serta alih fungsi kawasan menjadi persoalan yang harus ditangani secara serius.
Ia mempertanyakan efektivitas penanganan karhutla apabila penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang merusak kawasan hutan belum maksimal.

NOW ON AIR SSFM 100

