Internal pemerintahan Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) dikabarkan telah terpecah, terkait perang melawan Iran. JD Vance Wakil Presiden AS disebut mengkritik Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel dan berulang kali mendesak Trump mengakhiri konflik melalui jalur diplomasi.
Melansir laporan Anadolu, Kamis (5/11/2026), Vance secara tertutup menilai Netanyahu keliru dalam mengambil sikap terkait Iran. Ia juga memperingatkan bahwa perang tersebut tidak populer di kalangan pemilih AS, dan merugikan Partai Republik dalam pemilu sela.
Akhirnya, kekhawatiran itu menguat setelah Partai Demokrat memenangkan kendali atas DPR dan Senat AS dalam pemilu sela yang berlangsung, Selasa (3/11/2026).
Vance kemudian secara terbuka mengaitkan kekalahan Partai Republik dengan kebijakan perang terhadap Iran. “Alasan kita kalah adalah perang,” tulis Vance melalui media sosial, Rabu (4/11/2026).
Sementara menurut laporan The Washington Post, Vance menyebut sebagian pemilih yang sebelumnya mendukung Trump dalam Pilpres 2024 beralih memilih Demokrat karena tidak puas terhadap perang Iran, kenaikan biaya hidup, serta kebijakan luar negeri pemerintah.
Ia mengidentifikasi empat tuntutan dari pemilih tersebut, yakni mengakhiri perang Iran, mengatasi inflasi dan biaya hidup, mengembalikan prioritas kebijakan America First, serta mengubah hubungan AS dengan Israel.
“Pemilih kita datang ke tempat pemungutan suara,” tulis Vance, seraya menjelaskan bahwa sebagian dari mereka justru memberikan suara kepada kandidat Demokrat.
Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa perbedaan pandangan mengenai kelanjutan operasi militer terhadap Iran telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir di lingkungan Gedung Putih.
Pete Hegseth Menteri Pertahanan AS disebut mendukung kelanjutan operasi militer. Sebaliknya, Vance, Marco Rubio Menteri Luar Negeri AS, dan sejumlah pejabat senior lainnya lebih mendorong penyelesaian melalui negosiasi.
Perbedaan sikap tersebut juga muncul dalam pertemuan pejabat senior di Ruang Situasi Gedung Putih pada September 2026.
Dalam pertemuan itu, sejumlah pejabat dilaporkan mengkhawatirkan dampak politik apabila pemerintah secara terbuka mengakui bahwa serangan militer AS terhadap Iran masih berlangsung.
Trump kemudian mendapat laporan mengenai pembahasan tersebut dan disebut sepakat bahwa publikasi operasi militer dapat merugikan peluang Partai Republik dalam pemilu.
Meski demikian, militer AS dilaporkan tetap menjalankan sejumlah serangan defensif terbatas terhadap peluncur rudal dan peralatan militer Iran tanpa banyak memublikasikan operasi tersebut.
Di tengah perbedaan pandangan itu, Netanyahu dilaporkan sempat mendesak Trump kembali melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela berlangsung.
Menurut Axios, Trump disebut sempat mempertimbangkan usulan tersebut, tetapi akhirnya memilih menunda keputusan hingga pemilu selesai.
Sebagian besar pejabat senior di sekitar Trump disebut mendukung pendekatan diplomasi yang diusulkan Vance. Namun, Trump masih mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan operasi militer.
Sejumlah penasihat Gedung Putih juga dilaporkan menyalahkan Hegseth karena dianggap meyakinkan Trump bahwa perang Iran akan berlangsung relatif singkat.
Meski mendapat kritik dari internal pemerintahannya, Trump tetap membela Hegseth dan tidak menunjukkan keinginan untuk menggantinya.
Setelah hasil pemilu sela menunjukkan kekalahan Partai Republik, Trump mengakui bahwa konflik Iran turut memengaruhi pilihan pemilih AS, terutama karena kenaikan harga bahan bakar.
“Saya pikir itu sebagian besar benar karena perang tersebut membuat harga bensin naik sedikit dalam jangka pendek,” ujar Trump kepada wartawan, Rabu, ketika dimintai tanggapan mengenai penilaian Vance.
Namun, Trump tetap mempertahankan keputusannya melancarkan operasi militer dengan alasan mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Kini, pemerintah AS dihadapkan pada sejumlah pilihan untuk menentukan kelanjutan konflik. Menurut Axios, opsi yang dipertimbangkan mencakup melanjutkan serangan besar-besaran, mencapai kesepakatan diplomatik dengan Teheran, atau mempertahankan blokade laut dan sanksi ekonomi untuk menekan Iran.
Mediator Qatar dilaporkan tengah menyusun rancangan kesepakatan yang diharapkan dapat mencegah pertempuran kembali meningkat sekaligus membuka peluang perundingan langsung antara AS dan Iran.
Di sisi lain, John Ratcliffe Direktur CIA, Scott Bessent Menteri Keuangan AS, dan sejumlah penasihat pemerintah disebut lebih memilih mempertahankan tekanan ekonomi dan blokade untuk melihat dampaknya sebelum mengambil langkah militer berikutnya.
Sementara itu, Pentagon dilaporkan terus mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali operasi militer berskala besar, termasuk dengan mengerahkan tambahan kekuatan menuju Timur Tengah. (bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

