Ia menilai Rais Aam bukan sekadar jabatan struktural, melainkan memiliki peran penting dalam menjaga arah moral dan keumatan NU. Karena itu, figur yang dipilih harus memiliki legitimasi kuat dari kalangan Nahdliyin serta mampu menjaga independensi organisasi.
Ujang juga mengingatkan bahwa NU selama ini memiliki peran strategis sebagai kekuatan masyarakat sipil. NU kerap menjadi penyeimbang sekaligus berkontribusi dalam meredakan berbagai ketegangan sosial dan politik.
“Kalau ada isu Rais Aam-nya digadang-gadang oleh kepentingan kekuasaan, maka sangat merugikan kalangan NU,” tegas Ujang.
Ia berharap Muktamar ke-35 NU dapat menghasilkan Rais Aam yang benar-benar mendapatkan mandat dari umat dan mampu menjaga marwah organisasi.
Menurut Ujang, independensi menjadi hal penting agar NU tetap memiliki daya kritis serta posisi tawar yang kuat dalam kehidupan kebangsaan.
“Rais Aam harus lahir dari mandat umat, bukan dari kepentingan kekuasaan. Dengan begitu, roh dan independensi NU tetap terjaga,” pungkasnya. (faz/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

