Terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien diabetes tipe 2 yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, khususnya ketika target pengendalian gula darah belum tercapai dengan terapi sebelumnya.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan terapi tersebut dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki kadar HbA1c, salah satu parameter untuk menilai pengendalian gula darah dalam jangka panjang.
Pada pasien tertentu, terapi tersebut juga dapat memberikan manfaat tambahan terhadap risiko penyakit kardiovaskular dan kualitas hidup.
Meski demikian, Sidartawan menegaskan terapi diabetes dan obesitas tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama kepada seluruh pasien.
“Setiap penyandang diabetes memiliki kondisi fisik dan respons metabolik yang berbeda. Karena itu, terapi harus direncanakan secara personal berdasarkan evaluasi dan kondisi masing-masing pasien,” katanya.

NOW ON AIR SSFM 100

