Museum H.O.S. Tjokroaminoto di kawasan Peneleh, Surabaya, menjadi salah satu destinasi sejarah yang menyimpan jejak penting perjalanan bangsa Indonesia. Rumah yang telah berdiri sejak tahun 1907 itu tidak hanya menjadi tempat tinggal H.O.S. Tjokroaminoto, tetapi juga menjadi saksi lahirnya berbagai pemikiran dan tokoh besar pergerakan nasional.
Virgy Azalia tour guide yang bertugas di museum tersebut, menjelaskan bahwa H.O.S. Tjokroaminoto memiliki peran besar dalam sejarah pergerakan Indonesia.
Menurutnya, Tjokroaminoto dikenal sebagai tokoh yang melahirkan berbagai pemikiran ideologi yang kemudian berkembang di Indonesia.
“Di rumah ini lahir berbagai pandangan ideologi seperti nasionalis, komunis, dan agamis yang berkembang dari para anak kos Pak Tjokroaminoto,” ujar Virgy saat ditemui di Museum H.O.S. Tjokroaminoto.
Selain dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional, H.O.S. Tjokroaminoto juga merupakan mantan Ketua Syarikat Islam, organisasi besar yang memiliki pengaruh kuat pada masa penjajahan Belanda.
Virgy menjelaskan, rumah tersebut memang dibeli langsung oleh Tjokroaminoto dan kemudian digunakan sebagai tempat kos bagi sejumlah tokoh muda yang kelak menjadi figur penting bangsa. Beberapa tokoh yang pernah tinggal di rumah itu antara lain Soekarno, Alimin, Musso, Semaoen, hingga Kartosoewirjo.
“Pak Tjokroaminoto sendiri dalam masa pergerakan zaman dulu itu sebagai salah satu, yang membuat ideologi. Ada ideologi komunis, nasionalis, sama agamis. Yang di mana ketiga ideologi ini diikuti oleh kelima anak kosnya yang ngekos di rumah ini, di rumahnya Pak Tjokroaminoto.” ungkapnya.

Tidak hanya menjadi tempat tinggal, rumah tersebut juga menjadi lokasi diskusi dan rapat perjuangan pada masa penjajahan. Virgy mengatakan sejumlah tokoh besar seperti K.H. Ahmad Dahlan, Tan Malaka, hingga Soekarno pernah berdiskusi di rumah itu untuk membahas perjuangan dan strategi melawan Belanda.
“Rumah ini juga menjadi salah satu saksi bisu bahwasanya dilakukannya rapat-rapat atau dilakukannya diskusi-diskusi oleh Pak Tjokroaminoto sendiri dengan teman-teman seperjuangannya juga, seperti Pak K.H. Ahmad Dahlan, Soekarno juga yang pernah mengekos di sini. Terus ada Pak Tan Malaka dan segala macamnya itu melakukan diskusinya” katanya.
Museum H.O.S. Tjokroaminoto sendiri diresmikan sebagai museum pada 17 November 2017. Hingga kini, museum tersebut rutin menerima kunjungan dari berbagai kalangan mulai siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga komunitas masyarakat.
“Kawasan Peneleh itu memang banyak sekali kunjungan-kunjungan yang datang. Entah itu dari sekolah SD, SMP, SMA, bahkan anak kuliah, atau mungkin kayak gerombolan-gerombolan ibu-ibu, atau komunitas-komunitas ibu-ibu, bapak-bapak, dan lain sebagainya tuh biasanya sering berkunjung ke sini gitu.” ucapnya.
Selain museum, kawasan Peneleh juga memiliki layanan pemandu wisata lokal yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Para pemandu lokal tersebut mengajak pengunjung berkeliling ke sejumlah titik bersejarah lain seperti Sumur Jobong, rumah tokoh perjuangan, hingga makam Belanda di kawasan Peneleh.
“Kampung Penelehnya sendiri pun juga memiliki guide lokalnya sendiri. Jadi ada yang namanya Pokdarwis. Jadi Pokdarwis ini semacam guide-nya yang memang khusus disediakan di Peneleh itu untuk memandu kawasan Peneleh gitu. Jadi enggak hanya di museum aja. Jadi ada Sumur Jobong, terus ada rumah Achmad Jais” jelasnya.
Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin tertarik untuk mengunjungi museum dan mempelajari sejarah bangsa.
“Jangan malas datang ke museum dan belajar sejarah, karena masih banyak cerita perjuangan Indonesia yang bisa dipelajari lebih dalam,” pungkasnya. (rzl/ham)
Penulis: Rizal Pandya Yudareswara magang suarasurabaya.net
Editor: Hamim Arifin

NOW ON AIR SSFM 100

