Sementara itu, minuman dengan pemanis buatan mencakup minuman berkarbonasi rendah kalori. Konsumsi peserta dikategorikan mulai kurang dari satu porsi per bulan hingga lebih dari satu porsi per hari, dengan ukuran satu porsi sekitar 8 ons atau 237 mililiter.
Saat peserta dilaporkan mengalami kanker lambung, peneliti melakukan konfirmasi melalui catatan medis atau registri kanker jika tersedia. Analisis juga memperhitungkan sejumlah faktor risiko lain, termasuk konsumsi daging merah dan daging olahan.
Meski menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman berpemanis tambahan dan kanker lambung, peneliti menegaskan diperlukan penelitian lebih lanjut. Studi tersebut bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan bahwa minuman berpemanis secara langsung menyebabkan kanker lambung.
Selain itu, sebagian besar peserta merupakan tenaga kesehatan berkulit putih yang mulai mengikuti penelitian saat berusia 30 hingga 75 tahun. Kondisi tersebut membuat hasil penelitian belum tentu dapat digeneralisasi ke kelompok ras dan etnis lain maupun orang dewasa yang lebih muda.
Jumlah kasus kanker lambung yang ditemukan juga relatif kecil dibandingkan total peserta. Karena itu, peneliti mengingatkan bahwa hasil penelitian masih dapat memiliki tingkat ketidakpastian tertentu.
Faktor risiko kanker lambung yang telah diketahui sebelumnya antara lain infeksi H. pylori, konsumsi alkohol berlebihan, kebiasaan merokok, usia lanjut, serta laki-laki. Temuan terbaru ini menambah bukti mengenai pentingnya memperhatikan pola konsumsi minuman dalam kaitannya dengan kesehatan jangka panjang.(ant/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

