Susu full cream atau whole milk kerap dianggap kurang sehat karena kandungan lemaknya. Namun, sejumlah penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa konsumsi susu dengan lemak utuh dapat memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan, mulai dari menjaga tulang hingga membantu pengelolaan berat badan.
Untuk dikategorikan sebagai whole milk, susu harus mengandung setidaknya 3,25 persen lemak susu. Kandungan ini menjadi pembeda utama dibandingkan susu rendah lemak atau skim.
Dilansir dari laman Health pada Minggu (19/4/2026), konsumsi satu gelas susu per hari, termasuk whole milk, dikaitkan dengan penurunan risiko sejumlah penyakit kronis.
Beberapa di antaranya adalah penyakit jantung, stroke, sindrom metabolik, tekanan darah tinggi, obesitas, kanker kolorektal, hingga osteoporosis.
Kandungan nutrisi dalam susu berperan penting dalam efek perlindungan ini. Kalsium, misalnya, mampu mengikat zat berbahaya di dalam usus seperti asam empedu. Proses ini membantu melindungi lapisan usus dari kerusakan yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker.
Whole milk mengandung lebih dari 400 jenis asam lemak, dan sebagian besar di antaranya bermanfaat bagi tubuh. Beberapa jenis asam lemak seperti C15:0 (pentadecanoic acid) dan C17:0 (heptadecanoic acid) diketahui dapat membantu menekan peradangan, memperbaiki sel, serta menurunkan kadar lemak dalam darah.
Selain itu, susu dari sapi yang diberi pakan rumput biasanya memiliki kandungan omega-3 lebih tinggi serta conjugated linoleic acid (CLA). Omega-3 dikenal memiliki sifat antiinflamasi, sementara CLA berpotensi mendukung kesehatan jantung.
Whole milk merupakan sumber nutrisi penting untuk kesehatan tulang. Dalam satu gelas, susu dapat memenuhi sekitar 23 persen kebutuhan harian kalsium, mineral utama dalam pembentukan tulang.
Tidak hanya itu, susu juga mengandung protein, fosfor, dan magnesium yang berperan dalam menjaga struktur tulang. Susu yang diperkaya vitamin D juga membantu penyerapan kalsium secara optimal.
Konsumsi susu secara rutin dapat membantu mencegah pengeroposan tulang, meningkatkan kepadatan tulang, serta menurunkan risiko patah tulang dan osteoporosis.
Meski lebih tinggi kalori dibandingkan susu rendah lemak, whole milk tidak selalu berdampak negatif pada berat badan. Sejumlah studi justru menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi whole milk dengan berat badan yang lebih rendah dan lingkar pinggang yang lebih kecil.
Penelitian terbaru pada 2024 menemukan bahwa konsumsi susu full cream berkaitan dengan penurunan risiko obesitas. Sementara itu, tinjauan studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa anak-anak yang mengonsumsi whole milk memiliki risiko kelebihan berat badan lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi susu rendah lemak.
Efek ini diduga karena whole milk dapat memperlambat proses pencernaan dan meningkatkan rasa kenyang. Selain itu, susu juga bisa menjadi alternatif pengganti minuman tinggi gula. Beberapa asam lemak seperti CLA dan asam butirat turut berperan dalam mengatur asupan kalori dan meningkatkan pembakaran energi.
Meski memiliki berbagai manfaat, konsumsi whole milk tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing. Porsi, pola makan keseluruhan, serta gaya hidup tetap menjadi faktor penting dalam menentukan dampaknya bagi tubuh. (saf/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
