Harga minyak dunia melonjak pada Senin (11/5/2026) setelah Donald Trump Presiden Amerika Serikat menyebut respons Iran atas proposal Washington sebagai “tidak dapat diterima”. Pernyataan itu memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi, di tengah Selat Hormuz yang masih sebagian besar tertutup dan membuat pasar global tetap ketat.
Reuters memperbarui laporannya, minyak mentah Brent naik 4,16 dolar AS atau 4,11 persen menjadi 105,45 dolar AS per barel pada pukul 03.40 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 4,38 dolar AS atau 4,59 persen menjadi 99,80 dolar AS per barel.
Kenaikan ini berbalik arah dari pekan sebelumnya, ketika kedua acuan minyak itu sempat mencatat penurunan mingguan 6 persen. Saat itu, pasar berharap konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan segera mereda sehingga jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali dibuka.
“Pasar minyak masih bergerak seperti mesin yang dikendalikan berita geopolitik. Harga berayun tajam mengikuti setiap komentar, penolakan, atau peringatan dari Washington dan Teheran,” kata Priyanka Sachdeva, analis pasar senior Phillip Nova.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada agenda kunjungan Trump ke China. Presiden AS itu dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu dan, menurut pejabat Amerika Serikat, diperkirakan akan membahas Iran bersama Xi Jinping Presiden China, selain sejumlah isu lain.
“Perhatian pasar kini sepenuhnya tertuju pada kunjungan Presiden Trump ke China pekan ini,” kata Tony Sycamore, analis pasar IG.
“Ada harapan Trump dapat membujuk Beijing menggunakan pengaruhnya terhadap Iran untuk mendorong gencatan senjata menyeluruh dan penyelesaian gangguan di Selat Hormuz,” tambahnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Amin Nasser CEO Saudi Aramco pada Minggu mengatakan dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan terakhir. Menurut dia, pasar energi tetap membutuhkan waktu untuk kembali stabil meskipun arus pengiriman nantinya kembali normal.
Data pelayaran Kpler juga menunjukkan dua kapal tanker bermuatan minyak mentah keluar dari Selat Hormuz pada pekan lalu dengan pelacak dimatikan untuk menghindari serangan Iran. Kondisi ini dinilai menunjukkan meningkatnya upaya mempertahankan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, analis ING dalam catatan pada Senin menilai premi risiko geopolitik masih akan bertahan dalam harga minyak. Mereka menyebut risiko gangguan baru di Selat Hormuz, menipisnya persediaan, serta lemahnya koordinasi kebijakan akan tetap menjadi faktor penopang harga.
ING memperkirakan harga Brent masih akan bertahan di atas 90 dolar AS per barel sepanjang 2026. Pada 2027, harga diproyeksikan bergerak di kisaran 80 hingga 85 dolar AS per barel seiring pemulihan pertumbuhan permintaan dan pengisian kembali persediaan secara bertahap.(iss/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

