Kamis, 11 Juni 2026

Pemerintah Tengah Siapkan Stimulus Dampak Kenaikan Harga BBM

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan stimulus ekonomi, setelah harga bahan bakar minyak jenis Pertamax dan Pertamax Green dinaikkan.

Meski begitu, Airlangga Hartarto Menko Perekonomian enggan memberi bocoran, apa saja stimulus perekonomian yang akan diberikan pemerintah. Lantaran harus dilaporkan terlebih dahulu ke pemerintah.

“Lagi disiapin. Ya, kalau udah diputus baru dikasih tahu. Laporin presiden juga,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Soal kondisi kenaikan harga BBM dan kenaikan suku bunga yang terjadi berapa hari terakhir. Airlangga mengatakan, itu adalah proses stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Pak kenaikan harga pertamax dan BI-Rate naik, suku bunga naik, makin menekan masyarakat kelas menengah gak?  Ya, kan itu stabilisasi. Nanti kalau kalau dolarnya turun terus protes. dolarnya di rem, ah, protes juga,” ujarnya.

Soal dampak inflasi ke depan, Airlangga mengatakan, pemerintah masih akan terus memonitor kondisi keuangan ke depan.

“Dampak inflasi kan dari kita lihat dari transportasi dan harga. Nah, kita monitor aja dulu,” pungkasnya.

Sebelumnya PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green. Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Satu hari sebelum kenaikan BBM nonsubsidi tersebut, Bank Indonesia (BI) mengakui pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terjadi lebih dalam dibandingkan proyeksi yang sebelumnya telah disusun.

Kondisi tersebut mendorong bank sentral menyiapkan serangkaian langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas kurs dan menjaga kepercayaan investor.

“Dalam berbagai evaluasi hari ini, kita melihat loh kok pelemahan rupiah melebih yang kita proyeksikan dulu. Dan karenanya tadi judulnya adalah langkah-langkah kebijakan lanjutan untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia (BI) di kompleks DPR RI, Selasa (9/6/2026).

Perry mengatakan, keputusannya menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen dengan harapan rupiah akan semakin stabil ke depan.

“Tentu saja agar proyeksi inflasi ke depan. Tahun ini dan tahun ke depan, seperti tadi disampaikan, tetap 2,5 plus minus 1 persen. Sekaligus kenaikan BI-Rate ini untuk menarik, maksudnya investasi portofolio asing,” ungkapnya.(lea/kir/ipg)

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Kamis, 11 Juni 2026
32o
Kurs