Senin, 15 Juni 2026

Kasus DBD di Indonesia hingga Mei 2026 Mencapai 39 Ribuan, Kemenkes Targetkan Nol Kematian

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Nyamuk Aedes Aegypti yang terlihat terlihat di laboratorium. Foto: Reuters Ilustrasi - Nyamuk Aedes Aegypti yang terlihat terlihat di laboratorium. Foto: Reuters

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 39.672 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi di Indonesia hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, 105 orang dilaporkan meninggal dunia.

Tingginya angka kasus dan kematian mendorong Kemenkes memperkuat deteksi dini, respons cepat, serta berbagai strategi pengendalian dengue di daerah guna menekan dampak penyakit yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat tersebut.

Prima Yosephine Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan mengatakan, Indonesia saat ini masih menjadi salah satu negara dengan beban kasus dengue tertinggi di dunia.

“Indonesia kita lihat di sini adalah negara dengan kasus Dengue nomor dua terbesar di dunia. Dan kalau kita lihat di regional Asia Tenggara, maka kita yang paling besar,” ujarnya dalam kegiatan ASEAN Dengue Day 2026 di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Berdasarkan data Kemenkes, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang tahun ini, yakni lebih dari 9.000 kasus dengan 36 kematian.

Prima menjelaskan Indonesia menyumbang sekitar tiga persen dari total kasus dengue global. Namun, proporsi kematian akibat penyakit tersebut mencapai 17 persen dari total kematian dengue di dunia.

Untuk menekan angka tersebut, pemerintah telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Demam Dengue 2026–2029 yang memuat empat strategi utama pengendalian penyakit.

“Dalam Rencana Aksi Nasional (RAND) Pengendalian Demam Dengue Tahun 2026-2029, kami dari Kementerian Kesehatan menuangkan ada empat strategi utama dalam pengendalian Dengue. Yang pertama adalah kita harus memperkuat deteksi dini dan diagnosisnya,” kata Prima dilansir dari Antara.

Selain penguatan deteksi dini dan diagnosis, strategi lainnya mencakup peningkatan tata laksana pasien, penguatan upaya pencegahan, serta peningkatan sistem surveilans dan respons cepat terhadap kasus di lapangan.

Keempat strategi tersebut akan didukung oleh penguatan tata kelola, pembiayaan, kemitraan, pemanfaatan data, riset, dan inovasi kesehatan.

Melalui langkah tersebut, Kemenkes menargetkan angka kematian akibat DBD dapat ditekan hingga nol kasus pada 2030. Selain itu, pemerintah juga menargetkan penurunan kasus dengue sebesar 25 persen dibandingkan kondisi pada 2021.

Outcome yang kita harapkan adalah kita bisa mencapai nanti zero death di tahun 2030, kemudian kita akan bisa menekan atau bisa menurunkan kasus Dengue 25 persen di tahun 2030 dibandingkan keadaan tahun 2021,” ujarnya.

Pemerintah menyiapkan tiga bentuk intervensi utama. Pertama, pengendalian lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab dengue. Kedua, pengendalian vektor melalui berbagai inovasi, termasuk pemanfaatan nyamuk ber-Wolbachia. Ketiga, perlindungan terhadap manusia melalui vaksinasi demam berdarah.

Prima menyebut program nyamuk ber-Wolbachia saat ini telah diterapkan di lima kota, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Kupang, dan Bontang. Evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program tersebut diperkirakan baru dapat dilakukan pada 2027.

Meski demikian, hasil uji coba sebelumnya di Yogyakarta menunjukkan hasil yang menjanjikan. Inovasi tersebut mampu menurunkan insiden dengue hingga sekitar 70 persen.

Sementara untuk vaksinasi DBD, pelaksanaannya masih bersifat mandiri. Hingga kini, baru 11 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia yang telah menyediakan layanan vaksin dengue bagi anak-anak usia sekolah.(ant/saf/rid)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Senin, 15 Juni 2026
28o
Kurs