Kelompok desil yang seharusnya jadi instrumen pemerintah untuk membaca kondisi sosial ekonomi warga, belakangan diperbincangkan karena tidak sesuai dengan kondisi riil masyarakat.
Dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), masyarakat dibagi ke dalam 10 kelompok desil berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonominya. Warga yang masuk desil 1-5, sering kali disebut miskin hingga kurang mampu. Sedangkan yang masuk desil 6-10, sering dikategorikan mampu hingga kaya.
Tapi, belakangan warga yang sebelumnya masuk kategori desil 1-5, mendapati posisi desilnya tiba-tiba naik ke desil 6, 8, bahkan 9 atau 10. Sebaliknya, warga yang secara kondisi ekonomi tergolong mampu, justru masuk desil 1-5.
Dampaknya, warga yang harusnya mendapatkan sejumlah intervensi dari pemerintah, justru mengalami pencabutan bantuan sosial. Selain itu, beasiswa pendidikan yang harusnya diperoleh, juga ikut dicabut karena salah desil.
Terkait hal ini, Arrief Chandra Setiawan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya mengatakan, ada sejumlah faktor yang bisa membuat posisi desil seseorang berbeda dengan kondisi riilnya. Salah satunya, berasal dari data yang dihimpun dari 18 kementerian dan lembaga sebagai bagian dari penyusunan DTSEN.

NOW ON AIR SSFM 100

