Pendekatan tersebut dirangkum dalam prinsip “spending better”, yakni mengarahkan anggaran pada program yang memberikan dampak nyata terhadap produktivitas dan perekonomian.
Meski memiliki fondasi domestik yang cukup kuat, ekonomi Indonesia tetap menghadapi risiko dari kondisi global. Ketidakpastian kebijakan ekonomi dunia, risiko geopolitik, harga energi, kebijakan moneter global, serta perubahan arsitektur perdagangan dapat memengaruhi prospek pertumbuhan nasional.
Karena itu, proyeksi pertumbuhan 5,3-5,6 persen tersebut bukan berarti risiko ekonomi telah hilang. Sebaliknya, capaian di batas atas proyeksi akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makro sekaligus mengubah momentum konsumsi dan investasi menjadi produktivitas.
“Pertumbuhan semester I menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia lebih resilien daripada kesan yang kadang muncul di ruang publik. Tetapi resiliensi bukan berarti semua persoalan selesai,” ujar Adrian.
“Tantangan berikutnya adalah mengubah ketahanan itu menjadi produktivitas, investasi yang lebih berkualitas, pekerjaan yang lebih baik, dan peningkatan pendapatan masyarakat,” lanjutnya.

NOW ON AIR SSFM 100

