Reuters menuliskan, BI selama ini menghadapi tekanan untuk mendukung agenda pertumbuhan ekonomi tinggi pemerintahan Prabowo. “Pada saat bersamaan, rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada Juni, di tengah kekhawatiran terhadap pengelolaan fiskal dan independensi bank sentral,” tulis Reuters dalam laporannya Senin pagi.
Untuk diketahui, setelah pengunduran diri Perry diumumkan, rupiah sempat melemah hingga 0,36 persen ke level Rp18.000 per dolar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan bergerak fluktuatif antara zona penguatan dan pelemahan.
Bhima Yudhistira Adhinegara Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai, hal yang perlu diantisipasi setelah Perry mundur adalah potensi melemahnya independensi Bank Indonesia.
“Memulihkan kepercayaan investor tentu tidak akan mudah, terutama karena arah kebijakan moneter berada di bawah kendali eksekutif. Selama tekanan politik terhadap BI terus berlangsung, pengganti Perry dari internal juga tidak akan bertahan lama,” kata Bhima dikutip Reuters.
Reuters turut menyoroti undang-undang yang disahkan DPR pada bulan lalu. Aturan itu memperkuat peran BI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan kewenangan kepada anggota parlemen untuk mengeluarkan rekomendasi mengikat kepada bank sentral dan lembaga pengawas keuangan independen.

NOW ON AIR SSFM 100

