Sabtu, 27 April 2024

Kasatpol PP Ungkap Cerita di Balik Penertiban Pasar Keputran Surabaya

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
M. Fikser Kepala Satpol (Kasatpol) PP Kota Surabaya waktu mengisi program Semanggi Surobyo di Suara Surabaya, Jumat (5/1/2024). Foto: Chandra suarasurabaya.net

Dinamika dan drama penertiban Pasar Keputran di Jalan Dinoyo, Kecamatan Tegalsari disebut-sebut sampai sudah jadi kisah legenda di Kota Surabaya.

Bagaimana tidak, pasar yang ikonik dengan para pedagangnya meluber di jalan raya hingga tak jarang mengganggu lalu lintas itu, selalu meninggalkan cerita meski sudah berkali-kali ditertibkan satpol PP mulai dari era wali kota sebelum-sebelumnya.

M. Fikser Kepala Satpol (Kasatpol) PP Kota Surabaya pun mengakui kalau sampai saat ini penertiban yang dilakukan belum sepenuhnya berhasil. Ini dikarenakan para pedagang yang meluber ke jalan tersebut, sebenarnya juga pedagang resmi di dalam pasar sendiri.

“Ada lahan-lahan yang seharusnya tidak dimanfaatkan untuk pasar, contohnya seperti lahan parkir. Jadi orang yang di dalam itu akhirnya keluar pengen menjemput pembeli di depan pintu, gitu. Akhirnya yang terjadi tidak tertata selama ini,” ungkap Fikser waktu mengisi program Semanggi Suroboyo Radio Suara Surabaya, Jumat (5/1/2024).

Kata Kasatpol PP, mereka beralasan turun meluber ke jalan untuk menjemput pembeli, karena di dalam bangunan pasar sering sepi pengunjung yang malas untuk masuk.

“Jadi kita harus (terus) melakukan penertiban, supaya para pedagang itu, mereka kembali naik ke pasar. Yang unik lagi, mereka itu punya beberapa stand (di dalam pasar) tapi dia jualan di tempat yang sebenarnya tidak diperbolehkan,” ungkap Fikser.

“Mereka jual komoditi yang sama. Jadi jual beli itu tidak terjadi di dalam tapi di luar pasar karena ruko-rukonya juga jual seperti kubis, labu siam, gitu ya. Dia sambil jadi pengepul, dia sambil gosir, dia pengecer (di luar pasar),” beber mantan Kadis Kominfo Surabaya itu.

Meski sudah dilakukan penertiban skala besar dengan terakhir pada 14 Agustus 2023 lalu, Fikser menjelaskan sampai saat ini pihaknya berkali-kali masih terus melakukan penertiban karena banyak pedagang yang nekat kembali berjualan di pedestrian dan lahan parkir.

Selain pedagang meluber ke jalan, kebersihan di Pasar Keputran sebelum akhirnya ditertibkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sejak 14 Agustus 2023 lalu, juga jadi cerita tersendiri. Mengingat, di lantai dua pasar itu sampai sekalian dipakai tempat tinggal oleh para pedagang di sana, selain berjualan.

“Saat mau melakukan penertiban di lantai 2 karena kami lihat kondisi lantai 2 itu kotor, gelap, itu dipakai untuk tempat tidur. Jadi kalau kita lihat disitu banyak baju, macam-macam lah suasana di atas itu,” ujarnya.

Bahkan, kata Fikser, tak jarang saat dilakukan penertiban di dalam pasar, pihaknya menemukan banyak anak kecil berkeliaran yang diduga terlibat aktivitas jual beli di pasar.

“Mereka itu sepertinya kalau kita lihat dipekerjakan untuk kebutuhan di pasar. Kurang lebih 15 orang (anak). Saya lihat yang paling gede itu (usianya) 14 tahun. Sebelumnya memang ada kejadian di Pasar Keputran, seorang ayah yang mempekerjakan anak dan kemudian hasilnya dipakai untuk beli narkoba, kemudian itu sudah ditangani oleh pemerintah kota,” ucapnya.

Menurut Fikser, anak-anak yang ikut aktivitas jual beli di pasar itu sudah ada yang mengkoordinir. Oleh karenanya, dalam penertiban pihaknya seringkali menggandeng TNI-Polri dan OPD lain untuk ikut dilibatkan.

Dia juga mengungkapkan, oknum-oknum yang selama ini terlibat kegiatan pungutan liar dan menjamin para pedagang untuk leluasa berjualan di luar pasar, sudah dipecat berdasarkan arahan Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya.

“Pak Eri ini beliau sangat tegas sekali ya terkait dengan pungli, ketahuan (langsung) dipecat itu. Tidak ada tuh teguran 1, 2, turunkan pangkat atau diskors, tidak ada. Main pungli langsung pecat itu bukan sekedar slogan tapi itu dibuktikan dengan beberapa rekan kami yang dipecat karena melakukan tindakan yang tidak terpuji (pungli),” pungkasnya.

Sebagai Kepala Satpol PP, Fikser juga mengakui pernah ada suatu waktu setelah melakukan penertiban, dirinya didatangi oleh pihak-pihak tertentu agar tidak menertibkan titik tertentu, dengan menawarkan sejumlah nominal, tapi ditolak.

Demikian dengan ancaman-ancaman terhadap pihaknya, diakui juga ada. “Soal urusan perut, ketika mereka gak bisa makan dia pastikan melawan bagaimana caranya dia harus bisa bertahan hidup dan makan,” ucapnya.

“Sebenarnya Satpol PP ini bukan melarang orang berdagang, silahkan berjualan tapi ditempatnya, jangan mengganggu orang lain,” tutupnya. (bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Mobil Tertimpa Pohon di Darmo Harapan

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Surabaya
Sabtu, 27 April 2024
29o
Kurs