Dokter Zulistian Nurul Hidayati spesialis penyakit dalam menyatakan bahwa hantavirus memiliki karakteristik penularan yang unik namun berisiko.
“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel pada kotoran tikus dan juga kontak langsung dengan hewan pengerat,” katanya, Selasa (12/5/2026).
Ia mengatakan bahwa sulit mengidentifikasi gejala awal saat terjangkit hantavirus, karena indikasi awal jika terpapar virus tersebut cukup umum seperti flu.
“Sehingga tidak bisa hanya diagnosis dari gejala klinis, perlu adanya pemeriksaan diagnostik penunjang dengan pemeriksaan di lab,” ucap dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.
Meski gejala awalnya cenderung general, seperti batuk, flu, demam, dan nyeri otot, tapi ia menekankan pentingnya perhatian jika terjadi penurunan kondisi mendadak dan kegagalan pernapasan.
Terdapat dua dampak serius akibat paparan hantavirus, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyebabkan gangguan pernapasan akut. Kemudian Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang masuk pada kategori demam berdarah yang disertai dengan gangguan ginjal akut.
Hingga saat ini, diketahui bahwa hantavirus memiliki lebih dari 40 varian virus dan 20 diantaranya bersifat patogenik yang memungkinkan terjadi penularan pada manusia. Pertumbuhan virus sangat berisiko terjadi di wilayah pemukiman padat penduduk dengan sanitasi yang rendah.
Zulistian mengatakan, jenis virus tersebut berbeda dengan Covid-19 yang persebarannya cenderung masif, sehingga masyarakat hanya perlu lakukan langkah preventif berupa sterilisasi dan peningkatan sanitasi di lingkungan rumah.
“Beberapa langkah perlindungan dapat dengan menggunakan masker dan sarung tangan agar terhindar dari kontak langsung dengan kotoran tikus,” ucapnya.
Seperti diketahui sebelumnya, hantavirus menjadi kekhawatiran setelah kasus tersebut dikabarkan muncil di kapal pesiar MV Hondius. Sejumlah penumpang kapal pesiar yang berlayar dari Argentina itu dikabarkan mengalami gejala ringan, gangguan pernapasan akut, kritis, gejala ringan, hingga meninggal dunia.
Di Indonesia sendiri telah teridentifikasi sebanyak 23 kasus hantavirus pada manusia sejak tahun 2024 lalu.
Kasus tersebut bukan hal baru, namun ia menekankan bahwa kondisi tersebut harus menjadi perhatian, terutama terkait risiko penyakit zoonosis yang meningkat di tengah padatnya pemukiman di beberapa wilayah di Indonesia, karena karakteristik penularan dan tingkat fatalitasnya tidak bisa dipandang rendah. (ris/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

