Otoritas kesehatan di Taipei, Taiwan melaporkan satu kasus kematian akibat infeksi hantavirus yang memicu kekhawatiran masyarakat terkait potensi penyebaran penyakit tersebut.
China Central Television (CCTV) melaporkan bahwa pemerintah setempat kini meningkatkan langkah sanitasi lingkungan secara besar-besaran sebagai upaya mencegah penyebaran virus yang ditularkan melalui hewan pengerat.
Selain memperluas kegiatan pembersihan lingkungan, otoritas Taipei juga menambah jumlah titik pemasangan umpan tikus di sejumlah wilayah yang dinilai rawan.
Tenaga ahli pengendalian hewan pengerat turut diterjunkan untuk membantu warga melakukan langkah pencegahan dan edukasi mengenai bahaya hantavirus.
Hingga saat ini, baru satu kasus hantavirus yang terkonfirmasi di Taipei. Meski demikian, kekhawatiran publik terhadap kemungkinan penularan virus masih cukup tinggi.
Dilansir dari Antara pada Sabtu (9/5/2026), hantavirus merupakan kelompok virus yang dapat menular kepada manusia melalui kontak dengan hewan pengerat, terutama tikus, termasuk paparan urine, air liur, atau kotorannya.
Infeksi hantavirus diketahui dapat memicu sejumlah penyakit serius, seperti demam berdarah dengan sindrom ginjal hingga sindrom paru akibat hantavirus yang berpotensi mematikan.
Sementara itu, kasus serupa juga dilaporkan terjadi di kapal pesiar Belanda MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde.
Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak tujuh orang terinfeksi hantavirus dalam insiden tersebut dan tiga di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala seperti demam, sesak napas, nyeri otot, atau gangguan ginjal setelah terpapar area yang diduga terkontaminasi. (ant/saf/faz)











