Sabtu, 29 Agustus 2026

Gus Kikin Dorong Qanun Asasi Kembali Jadi Rujukan NU

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat berada di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Jumat (28/8/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ingin Qanun Asasi yang disusun KH Hasyim Asy’ari kembali digunakan sebagai salah satu rujukan NU dalam menjalankan organisasi.

Gagasan tersebut menjadi salah satu tawaran Gus Kikin jika dipercaya memimpin PBNU dalam Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Gus Kikin menjelaskan, Qanun Asasi merupakan dokumen yang menjadi asas NU pada masa awal berdirinya organisasi. Dokumen tersebut dahulu digunakan hingga NU berubah menjadi partai politik pada 1952.

Ia menyebut, dokumen Qanun Asasi itu ditemukan kembali sekitar tiga tahun lalu dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Ia menilai dokumen tersebut penting untuk kembali dijadikan rujukan dalam menjalankan berbagai kegiatan NU.

“Itu dulu digunakan NU di awal kelahiran NU sampai kemudian NU menjadi partai politik tahun 1952 dan itu kemudian tidak digunakan. Tiga tahun yang lalu itu kita temukan kembali dokumen itu dan sekarang sudah kita cetak, sudah jadi buku,” katanya, Sabtu (29/8/2026).

“Nah, itu yang saya tawarkan, NU itu seyogyanya menggunakan rujukan-rujukan itu lagi. Nanti kita menggunakan itu supaya NU itu kembali seperti dulu awal digunakan,” lanjutnya.

Selain menghidupkan kembali Qanun Asasi, Gus Kikin juga menawarkan penguatan ekonomi bagi warga Nahdliyin. Menurutnya, NU punya potensi untuk memperkuat kemandirian ekonomi.

“Ekonomi itu tidak lepas, semua ekonomi berbasis pasar. Nah, pasarnya NU itu dengan jumlah warganya yang begitu besar. Itu sebenarnya akan menjadi pasar ekonomi,” katanya.

Ia menilai, potensi ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari sektor konvensional, melainkan ekonomi digital juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi warga NU.

“Ekonomi digital ikut, tinggal caranya saja. Yang terang, warganya yang jumlahnya banyak ini kalau ditata ekonominya kan menjadi menarik,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengatakan bahwa ia tidak mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU, melainkan pencalonan tersebut berasal dari PWNU Jawa Timur.

“Jadi ini kita memang persiapan dirinya itu bukan untuk pemilihan seperti ini, tetapi kita memang sehari-hari menjalankan kegiatan-kegiatan di NU itu memang sebaik-baiknya. Ini karena saya sudah terbiasa kita bersilaturahmi dengan yang lain dan kita menjalin hubungan-hubungan dengan semuanya,” ujarnya.

Sementara itu, saat ditanya mengenai sosok yang layak menjadi Rais Aam PBNU, Gus Kikin tidak menyebut nama tertentu. Ia justru menyampaikan kriteria ulama yang menurutnya ideal menduduki posisi tersebut.

Menurut Gus Kikin, Rais Aam harus memiliki keilmuan yang mumpuni. Selain itu, amalan dan aktivitasnya juga harus berlandaskan pada ilmu yang dimiliki.

“Rais Aam kalau yang zaman dulu memang dari sisi keilmuannya yang mumpuni. Kemudian memang yang terbaik itu namanya ulama itu adalah yang menjaga keilmuannya, jadi amalan-amalannya atau semua kegiatannya itu berbasis dari keilmuannya,” pungkasnya. (ris/saf/faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Sabtu, 29 Agustus 2026
28o
Kurs