Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada awal September 2026 menyisakan cerita bagi sejumlah pendengar Radio Suara Surabaya. Mulai dari abu vulkanik yang membuat mata perih, aktivitas warga membersihkan rumah, hingga pengalaman menghadapi letusan Gunung Kelud yang kembali teringat.
Pengalaman tersebut dibagikan para pendengar dalam siaran Radio Suara Surabaya pada 6 dan 7 September 2026, ketika aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menjadi perhatian masyarakat.
Hartoyo, seorang karyawan yang memiliki keluarga di Pringsewu, Lampung, mengaku mengetahui kabar hujan abu vulkanik melalui TikTok. Setelah melihat informasi tersebut sekitar pukul 22.00 WIB, ia langsung menghubungi keluarganya untuk memastikan kondisi mereka.
Keesokan paginya, Hartoyo menerima kiriman video yang memperlihatkan kondisi di kampung halamannya. Menurut penuturan keluarganya, abu vulkanik yang turun cukup pekat hingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Abu tersebut juga menyebabkan mata terasa perih. Hartoyo bahkan menceritakan adanya pengendara motor yang tiba-tiba berhenti karena matanya kemasukan abu.
Warga setempat diimbau membatasi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker dan kacamata untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Warga Surabaya di Lampung Rekam Kondisi Hujan Abu Menggunakan Drone
Pengalaman serupa dibagikan Gerry Telussa, warga Surabaya yang sedang bekerja dan tinggal bersama saudaranya di Kabupaten Pringsewu, Lampung, selama sekitar delapan bulan terakhir.
Gerry merekam kondisi lingkungan tempat tinggalnya menggunakan drone. Rekaman tersebut memperlihatkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menutupi atap rumah warga.
Menurut Gerry, abu yang turun pada malam sebelumnya jauh lebih pekat dibandingkan kondisi keesokan paginya.
Warga kemudian mulai membersihkan rumah dan lingkungan sekitar dari material vulkanik. Ia juga menyampaikan adanya imbauan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat agar masyarakat menggunakan masker dan kacamata.
Meski sedang berada jauh dari Surabaya, Gerry mengaku tetap mengikuti siaran Radio Suara Surabaya untuk mendapatkan informasi terkini.
Hujan Abu Anak Krakatau Ingatkan Pendengar pada Erupsi Kelud 2014
Cerita hujan abu Anak Krakatau turut mengingatkan sejumlah pendengar pada pengalaman menghadapi erupsi Gunung Kelud pada 2014.
Rumondang, seorang pengusaha, mengenang bagaimana abu vulkanik menempel begitu tebal pada mobil hitam miliknya ketika Gunung Kelud meletus.
Sementara itu, Gatot Ari, warga Kota Kediri, menceritakan banyaknya material pasir yang turun meskipun tempat tinggalnya berada cukup jauh dari Gunung Kelud.
Gatot mengaku menemukan timbunan pasir yang sangat tebal di sejumlah lokasi. Alih-alih hanya membuangnya, sebagian warga mengumpulkan pasir vulkanik untuk dicampur dengan semen dan diolah menjadi paving block.
Ia sendiri memanfaatkan pasir hasil erupsi untuk membangun dapur rumahnya.
Bagi Gatot, pengalaman tersebut menjadi kenangan tersendiri karena material yang awalnya mengganggu aktivitas warga ternyata juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.
Anak Krakatau Berstatus Siaga, Ahli Ingatkan Pentingnya Memahami Aktivitas Gunung Api
Berdasarkan laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB, atau berlangsung sekitar 25 jam.
Setelah aktivitas tersebut berhenti, kembali terjadi erupsi tipe Strombolian pada Minggu pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.
Dr. Ir. M. Haris Miftakhul Fajr, S.T., M.Eng., ahli geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dalam wawancara dengan Radio Suara Surabaya, Selasa (8/9/2026), menjelaskan bahwa aktivitas beberapa gunung api secara bersamaan belum tentu saling berkaitan.
Menurutnya, setiap gunung api memiliki sistem magma dan karakteristik tektonik yang berbeda. Karena itu, masyarakat perlu memahami karakteristik masing-masing gunung serta mengikuti perkembangan aktivitasnya melalui informasi resmi PVMBG.
Pengalaman para pendengar menjadi gambaran bagaimana erupsi gunung api dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat letusan. Di tengah kondisi tersebut, kewaspadaan terhadap hujan abu dan informasi mitigasi menjadi bagian penting dalam menghadapi aktivitas vulkanik. (nda/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

