Dalam standar operasional, menu makanan yang selesai dimasak pukul 05.00 WIB seharusnya sudah sampai ke sekolah pukul 07.00 WIB dan dapat dikonsumsi siswa saat jam istirahat pukul 10.00 WIB.
“Apa bedanya? Bedanya adalah pada masa pengiriman SPPG itu ke titik penerima manfaat. Jadi kalau selesai dimasak jam 5, kemudian jam 7 diantar, jam 10 sudah bisa dimanfaatkan oleh penerima manfaat, ini semua aman,” ucapnya.
Akan tetapi, terdapat sebagian sekolah yang dikirim MBG pada pukul 11.00 WIB, dan baru dikonsumsi siswa di rentang waktu 12.30 sampai 13.00 WIB. Penyimpangan prosedur pengiriman itu lah, yang diduga menjadi pemicu keracunan terhadap ratusan korban.
“Tapi kemudian ada yang dikirimnya baru jam 11 lebih, dikonsumsi jam 12.30 sampai jam 13.00, inilah yang kemudian ditemukan ada masalah,” ucapnya.
Untuk itu, Gubernur Jatim tersebut menegaskan bahwa perlu adanya pembenahan dan pengawasan ketat terhadap sistem pengiriman MBG supaya tidak kembali mengulang kasus keracunan.
“Jadi memang kita harus terus pembenahan, semua lini melakukan monitoring ya, pengawasan dan sekaligus merekomendasikan tidak hanya kepada BGN, tetapi kepada SPPG setempat bahwa ini kasusnya dimasak yang sama, dengan format yang sama, tapi ada yang pengirimannya itu relatif lebih awal dan itu aman. Tapi ketika kemudian pengirimannya terlambat, ini yang kemudian menjadikan masalah,” tandasnya.(wld/bil/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

