Jumat, 28 Agustus 2026

Kiai Asep Minta KH Miftachul Akhyar Tak Maju Lagi Jadi Rais Aam, Usul KH Nurul Huda Djazuli

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
KH. Asep Saifuddin Chalim Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah saat berada di Jombang, pada Jumat (28/8/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

KH. Asep Saifuddin Chalim Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah meminta KH. Miftachul Akhyar tidak maju lagi sebagai calon Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU.

“Saya minta beliau untuk mundur dan jangan mencalonkan sebagai Rais Aam. Karena menurut saya, beliau tidak punya kapasitas untuk itu,” katanya di Jombang, pada Jumat (28/8/2026).

KH. Asep mengatakan bahwa ia memiliki kedekatan dengan KH. Miftachul Akhyar, bahkan pernah mengajak Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu menjadi pengurus NU, yakni Wakil Rais PCNU Kota Surabaya saat ia menjadi ketua PCNU tahun 1995.

Atas dasar hubungan tersebut, ia meminta KH. Miftach kembali mempertimbangkan pencalonannya sebagai Rais Aam, karena posisi tersebut membutuhkan kapasitas dan kesiapan yang kuat.

“Atas nama orang yang pernah baik dan pernah mengajak beliau masuk ke NU, tentu saya merasa kasihan kepada beliau. Beliau harus kasihan ketika memang tidak punya kapasitas untuk itu, maka doanya beliau dan doanya orang mukmin siapa pun adalah, Allahumma la tuhammilna ma la thoqata lana bih. ‘Ya Allah, jangan bebankan kepada kami sesuatu yang kami tidak mampu’,” jabarnya.

Ia menilai, hal tersebut bukan hanya menyangkut KH. Miftach secara pribadi, tetapi juga berdampak terhadap keluarga dan citra NU. Menurutnya, olok-olok terhadap KH. Miftach yang muncul di tengah masyarakat dapat menimbulkan tekanan bagi keluarga.

“Saya merasakan kasihan keluarganya. Bagaimana beliau oleh anak-anak kecil diolok-olok atas nama Rais Aam. Bagaimana tekanan mental kepada keluarga,” ucapnya.

KH. Asep juga mengaitkan persoalan tersebut dengan marwah organisasi. Ia menegaskan bahwa NU membutuhkan figur Rais Aam yang mampu menghadirkan keteduhan sekaligus kewibawaan di tengah jamaah.

“NU perlu kembali diagungkan marwahnya, dibesarkan marwahnya. Untuk itu harus di-handle oleh orang yang teduh, oleh orang yang berakhlak karimah, oleh orang yang haibah,” ucapnya.

Dalam hal ini, Kiai Asep mengusulkan KH. Nurul Huda Djazuli Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri untuk menjadi Syuriah PBNU.

“Beliau itu adalah Kiai Nurul Huda Djazuli, sepuh dan damai,” ucapnya.

Menurutnya, aspek fisik tidak seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam memilih Rais Aam, karena yang harus ditekankan adalah kualitas pemikiran, keteduhan, dan akhlak seorang ulama.

“Walaupun beliau secara fisik mungkin kurang mumpuni misalnya, tetapi kan bukan itu. Pemikiran dan keteduhannya serta akhlaknya yang kita butuhkan,” ujarnya.

KH. Asep juga menegaskan kesiapannya membantu KH. Nurul Huda Djazuli jika dipercaya menjadi Rais Aam PBNU, dengan harapan kembali memperkuat peran sosial keagamaan sekaligus menjadi penopang kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Saya secara pribadi, itu tidak usah masuk ke dalam struktur kalau beliau Rais Aam-nya, saya siap membantu,” tegasnya.

Pihaknya berharap, kepemimpinan baru Syuriyah PBNU ke depan mampu menggemuruhkan kewajiban NU untuk menerangi masyarakat dengan ilmu hingga membawa Indonesia maju, adil, dan makmur.(ris/wld/faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Jumat, 28 Agustus 2026
28o
Kurs