Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dahsyat di wilayah Gyirong perbatasan Nepal-China bertambah menjadi 469 orang hingga, Jumat (28/8/2026). Sementara China mengonfirmasi tiga korban meninggal dunia di Daerah Otonomi Xizang atau Tibet.
Dengan tambahan itu, total korban tewas akibat bencana di Nepal dan Tibet mencapai 472 orang. Selain korban meninggal, 1.200-an orang masih dinyatakan hilang.
Melansir laporan Anadolu, Nepal Tourism Board mencatat sebanyak 667 orang, termasuk warga negara asing, masih belum ditemukan di Nepal hingga, Kamis (27/8/2026) malam waktu setempat. Sementara otoritas China menyebut lebih dari 550 orang masih hilang di Tibet, termasuk 260 warga negara asing.
Banjir dan tanah longsor menerjang wilayah utara dan tengah Nepal sejak, Rabu (26/8/2026) dini hari. Arus deras menyapu permukiman di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli, serta menyeret warga dan material hingga ke wilayah hilir.
Bencana itu juga menghancurkan rumah, jembatan, jalan, serta berbagai infrastruktur lainnya. Sejumlah komunitas dan wisatawan bahkan terisolasi akibat akses yang terputus.
Operasi pencarian dan penyelamatan hingga kini masih berlangsung. Tentara Nepal, Kepolisian Nepal, dan Armed Police Force dikerahkan untuk melakukan pencarian, penyelamatan, serta evakuasi warga terdampak.
Helikopter juga digunakan untuk menjangkau wilayah yang terisolasi dan mengevakuasi korban selamat. Sementara tim darat terus menyisir bantaran sungai dan permukiman di wilayah hilir.
Nepal Tourism Board menyatakan masih melakukan verifikasi keberadaan wisatawan dan pelancong yang berada atau melintas di wilayah Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading ketika banjir terjadi.
Kerusakan parah pada jalur transportasi dan infrastruktur lainnya turut menyulitkan proses pencarian dan penyelamatan.
Hingga kini, skala keseluruhan bencana tersebut masih belum dapat dipastikan, karena otoritas terus mencocokkan data korban meninggal dan orang hilang dari berbagai wilayah terdampak. (bil)

NOW ON AIR SSFM 100

