Kadinkes mengatakan, pemkab tidak hanya fokus pada pemulihan kondisi fisik santri, tetapi juga memperhatikan dampak psikologis setelah mengalami insiden tersebut. Para santri diberi ruang untuk menyampaikan kondisi dan perasaan yang mereka alami.
“Kami tidak hanya melihat kondisi fisiknya, tetapi juga psikologisnya. Anak-anak perlu mendapatkan rasa aman dan dukungan setelah mengalami situasi seperti ini. Jika dari hasil asesmen ditemukan santri yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, tentu akan dilakukan penanganan sesuai kebutuhannya,” katanya.
Rapid asesmen dan pendampingan dilakukan di dua lokasi, yakni Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, serta Balongdowo, Kecamatan Candi.
Lakhsmie menjelaskan, pendampingan dilakukan di dua tempat karena sebagian santri yang bersekolah di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Putat, Tanggulangin, tinggal di Pondok Pesantren Manbaul Hikam Balongdowo, Candi.
“Jadi, kami memberikan pendampingan di kedua tempat itu agar asesmen dan perhatian terhadap kondisi kesehatan jiwa santri dapat dilakukan secara menyeluruh,” tambahnya.
Pemkab Sidoarjo berharap pendampingan tersebut dapat membantu proses pemulihan psikologis para santri, sehingga mereka dapat kembali menjalani aktivitas pendidikan dan keagamaan dengan rasa aman dan nyaman. (bil/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

