Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus menyusun rencana aksi panas kota atau heat action plan sebagai panduan menghadapi sekaligus mencegah dampak panas ekstrem. Rencana aksi itu masuk dalam dokumen yang isinya mengatur peran masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk saat kondisi panas ekstrem masuk tahap kegawatdaruratan.
Pungky Sugiarto Kepala Sub Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kota Surabaya mengatakan, penyusunan rencana aksi saat ini memasuki tahap penghimpunan program dan kegiatan dari berbagai pemangku kepentingan di Surabaya.
“Yang sudah kita himpun dari stakeholder di Surabaya terkait pemetaan sistem kota yang terdampak panas ekstrem dan kelompok rentan, dan menghimpun program kegiatan stakeholder yang sudah dilakukan atau untuk jangka panjang ke depan untuk mendukung aksi panas kota,” kata Pungky usai focus group discussion di Kantor BPBD Kota Surabaya, Kamis (8/10/2026).

Penyusunan dokumen tersebut ditargetkan rampung pada November 2026. Setelah divalidasi, rencana aksi panas kota akan digabungkan dengan dokumen di tingkat pemerintah pusat.
Sementara itu, Yanu Mardianto Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya mengatakan, BPBD sebagai leading sector akan memastikan rencana aksi tersebut dapat diterapkan oleh masing-masing OPD.
Menurut Yanu, forum diskusi yang melibatkan banyak OPD diperlukan untuk menentukan langkah konkret yang bisa dilakukan setiap instansi dalam menghadapi panas ekstrem.
Ia menjelaskan, sejumlah OPD sudah menjalankan program yang berkaitan dengan penanganan panas ekstrem. Misalnya Dinas Lingkungan Hidup mendukung melalui penanaman pohon, serta Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga membuat bozem-bozem mini untuk membantu mengurangi panas.
Kemudian Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan melakukan penyemprotan jalan untuk mengurangi efek panas dari paparan sinar matahari. “Ketika dokumen ini jadi, kita bisa punya panduan menghadapi panas ekstrem. BPBD jadi koordinator, siapa berbuat apa sudah jelas,” katanya.
Yanu menambahkan, peran BPBD terutama berada pada tahap kegawatdaruratan. Jika muncul kasus akibat panas ekstrem, seperti heatstroke, BPBD akan mengoordinasikan penanganannya bersama OPD terkait.
Di sisi lain, BMKG juga menyiapkan sistem informasi sebagai bagian dari peringatan dini panas ekstrem di Surabaya. Oky Sukma Hakim Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo mengatakan, kondisi panas saat ini tidak terlepas dari musim kemarau yang disertai fenomena El Nino sejak Juni 2026.
“Kalau kondisinya saat ini, kita sedang di masa kemarau disertai El Nino dengan intensitas sangat kuat. El Nino ini membuat atmosfer kita di Indonesia lebih kering sehingga kemarau berkepanjangan dan berdampak pada suhu udara yang meningkat daripada biasanya,” kata Oky.
Selain kemarau dan El Nino, Oky menyebut fenomena kulminasi utama juga akan terjadi pada Oktober. Fenomena ini berkaitan dengan pergerakan semu tahunan matahari.
Menurutnya, matahari yang bergerak dari 23,5 derajat lintang utara menuju 23,5 derajat lintang selatan akan berada tepat di atas Surabaya sekitar 12 Oktober 2026. Dampaknya, paparan matahari pada siang hari berpotensi terasa lebih terik, terutama saat tidak ada tutupan awan.
Oky mengatakan awal musim hujan di Jawa Timur diperkirakan datang bertahap. Sebagian wilayah diprediksi memasuki musim hujan pada November, sedangkan sebagian lainnya baru pada awal Desember. “Kita berharap pancaroba ini suhu udara mulai menurun,” katanya. (lta/bil/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

