
Prof. Gatut mengatakan, tantangan terbesar di era post-truth adalah membedakan fakta dari persepsi yang terus diproduksi dan diperkuat di ruang digital.
Karena itu, ia menilai diperlukan sedikitnya tiga langkah untuk menghadapi persoalan disinformasi. Pertama, memperkuat literasi digital masyarakat secara masif dan berkelanjutan.
Kedua, media massa harus kembali menjalankan fungsi utamanya dengan memproduksi berita yang objektif. Ketiga, diperlukan kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk membangun ekosistem informasi yang lebih sehat.
“Jangan mentang-mentang objeknya digital langsung dianggap cocok pakai Phenomenography Digital. Kita harus tetap kritis menyaring informasi viral, fokus memahami keberagaman cara pandang orang, dan terus menggalinya hingga tuntas ke akar masalah agar tidak mudah tertipu oleh riuhnya persepsi semu di dunia maya,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima suarasurabaya.net. Jumat (28/8/2026).

NOW ON AIR SSFM 100

