Kondisi itu menjadi salah satu pertimbangan Pemkot dalam memperkuat perlindungan sekaligus pemberdayaan ekonomi bagi mereka. Ida membeberkan, pendampingan kepada ojol perempuan sudah dilakukan sejak tahun lalu.
“Jadi, tahun kemarin itu sekitar 150 ojol perempuan sudah mendapatkan pendampingan dari kita. Ada beberapa kegiatan kayak cooking class, kemudian MUA (make up artist) seperti itu. Bahkan kesehatan reproduksi pada saat itu kita kolaborasi dengan salah satu rumah sakit melakukan pemeriksaan kesehatan juga di perempuan-perempuan ojol ini,” ujar Ida.
Pada tahun ini, sekitar 100 ojol perempuan kembali mendapat pendampingan hingga Agustus. Meski demikian, Ida mengakui jumlah itu masih relatif kecil dibandingkan total ojol perempuan yang telah terdata di Surabaya.
Ida memastikan, program pemberdayaan tak langsung menghentikan para srikandi jalan itu menjadi ojol. Pemkot lebih dulu mendorong mereka agar bisa mengurangi waktu kerja di jalan secara bertahap, seiring berkembangnya ketrampilan dan sumber penghasilan lainnya.
“Memang arahan Pak Wali (Eri Cahyadi) adalah perempuan ojol ini mengurangi waktunya di jalan. Jadi boleh berkegiatan tetap menjadi ojol tetapi lebih dikurangi waktunya. Nah, oleh karena itu kita memberikan pelatihan, pendampingan agar lebih banyak beraktivitas di rumah,” jelasnya. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

