Strategi tersebut membuat Persebaya tidak harus mengejar popularitas melalui transfer pemain besar-besaran. Pemain direkrut berdasarkan kebutuhan tim dan kemampuan anggaran yang tersedia.
Pendekatan itu dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan membangun skuad dengan biaya tinggi tanpa memperhitungkan kemampuan klub memenuhi kewajiban finansial sepanjang musim.
Rensu juga menyoroti pembagian fungsi dalam pengelolaan Persebaya. Sektor bisnis dan manajemen bertanggung jawab terhadap operasional klub, sedangkan sektor sepak bola berfokus pada aspek teknis serta performa tim.
Pemisahan fungsi tersebut dinilai menjadi salah satu ciri pengelolaan klub profesional. Dengan model itu, urusan bisnis dan sepak bola dapat berjalan beriringan tanpa harus mengandalkan keputusan pemilik untuk setiap aspek pengelolaan klub.
Menurut Rensu, ada anggapan yang masih keliru dalam sepak bola Indonesia, yakni menyamakan kekayaan pemilik dengan kesehatan finansial klub.









