M. Ridwan Butar-Butar Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Batu Bara berharap KH Miftachul Akhyar Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya kembali menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
“Beliau memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU,” katanya, Jumat (28/8/2026).
Ia menilai, KH Miftachul Akhyar merupakan figur yang mampu melanjutkan marwah Syuriyah di abad kedua NU serta menjaga otoritas ulama di tengah derasnya gelombang politik praktis.
Sanad keilmuannya, kata dia, terbangun sejak usia delapan tahun di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, kemudian Rejoso (Darul Ulum), Sidogiri, dan Al-Islah Soditan Lasem, serta majelis Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
Selain itu, ia mengatakan bahwa integritasnya teruji ketika ia memilih mundur dari Ketua Umum MUI pada 2022 demi berfokus berkhidmah dan menolak rangkap jabatan. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan komitmen menjaga amanah tanpa kepentingan lain.
Lebih lanjut, ketika organisasi menghadapi persoalan kepemimpinan, ia menegaskan otoritas Syuriyah, keputusan yang didukung 36 pengurus wilayah dan membawa Muktamar dipercepat serta digelar dengan tertib. Ia juga menjadi perekat, memimpin istighosah ribuan nahdliyin menjelang muktamar.
Ia menyebut, pengabdian KH. Miftachul Akhyar diakui negara, yakni pada 2025 menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa di abad kedua NU, Rais Aam harus merdeka dari kepentingan politik praktis dan berpegang teguh pada tradisi dan khittah.
“Kepemimpinan di tingkat PBNU harus mampu menjaga persatuan dan marwah organisasi. Kami melihat KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas tersebut,” pungkasnya.(ris/wld/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

