Airlangga ketika itu menjelaskan makna filosofis Pancasila 1 Juni sebagai rangkuman pemikiran Bung Karno mengenai kemerdekaan.
Kemerdekaan, menurut pemikiran tersebut, tidak berhenti pada aspek politik, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sosial, ekonomi, hingga persoalan ekologis.
Bagi Hasto, diskusi di Blitar menjadi salah satu perjumpaan yang berkesan. Suasana diskusi yang berlangsung di kota yang memiliki jejak sejarah kuat terkait Bung Karno membuat pembahasan keduanya terasa semakin bermakna.
“Kami berbicara tentang bagaimana Pancasila dan Marhaenisme harus kembali hadir menjawab persoalan nyata rakyat. Mas Angga begitu bersemangat ketika membedah Bung Karno. Bukan dengan romantisme masa lalu, tetapi dengan perspektif akademik dan keberpihakan yang sangat jelas kepada wong cilik,” kenang Hasto.
Pertemuan intelektual keduanya kemudian berlanjut di Megawati Institute pada akhir Juli 2026. Dalam pertemuan tersebut, pembahasan diarahkan secara khusus pada Marhaenisme dalam gagasan Soekarno mengenai negara gotong royong.

NOW ON AIR SSFM 100

