Wong menjelaskan, semakin tinggi konsumsi gula tambahan, semakin sedikit produksi asam lemak rantai pendek. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko disbiosis serta memperbesar permeabilitas usus atau leaky gut.
Selain gula tambahan, pola makan yang didominasi makanan ultra-olahan juga dinilai berdampak buruk terhadap kesehatan usus. Produk makanan jenis ini umumnya mengandung gula tambahan tinggi, tetapi rendah serat.
“Gula tambahan berlebih dari makanan, terutama minuman manis dan makanan ultra-olahan, sering kali kekurangan serat, air, mikronutrien, dan senyawa protektif dari tumbuhan yang membantu menyehatkan mikrobioma usus,” kata Wong.
Ketika makanan tinggi gula menggantikan konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan sumber serat lainnya, bakteri baik di dalam usus kehilangan nutrisi yang dibutuhkan untuk berkembang.
Akibatnya, keragaman mikrobioma usus dapat menurun sehingga keseimbangan ekosistem mikroorganisme di saluran pencernaan ikut terganggu.

NOW ON AIR SSFM 100

