Dalam forum tersebut, Nuryadi mengungkap bahwa hasil penelitian menemukan budaya nongkrong dan tren bekerja dari kafe turut mempengaruhi pola konsumsi baru.
Sebanyak 56 persen responden mengaku lebih sering mengonsumsi makanan dan minuman olahan di kafe, kedai maupun warung, sementara minuman yang paling banyak dikonsumsi adalah teh dan kopi.
“Fenomena ini sebenarnya baik dari sisi ekonomi karena mendorong tumbuhnya usaha. Namun, di sisi lain kita juga melihat tempat-tempat tersebut menjadi lokasi konsumsi gula yang cukup tinggi,” jelasnya.
Penelitian tersebut juga membeberkan sebanyak 41,2 persen responden mengonsumsi makanan dan minuman manis karena menikmati rasanya, 23,1 persen sebagai penambah energi, dan 14,9 persen karena faktor budaya serta kebiasaan.
Di sisi lain masyarakat juga berharap kepada pemerintah untuk terlibat dalam memperkuat edukasi dan kampanye hidup sehat sebesar 33 persen, memperbanyak fasilitas olahraga publik 20,8 persen dan mempermudah akses terhadap pangan sehat.

NOW ON AIR SSFM 100

