Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) menunjukan sekitar satu juta lulusan sarjana terapan atau S-1 S-2 dan S-3, masih menganggur pada Februari 2026. Jumlah itu merupakan bagian dari total 7,24 juta orang yang masuk dalam Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada periode yang sama.
Hal ini tentu merupakan ironi, di tengah semakin luasnya akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi. Gelar sarjana yang selama ini dinilai sebagai bekal untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik, nyatanya ternyata belum menjamin lulusan perguruan tinggi terserap di pasar kerja.
Terkait hal ini, Prof. Rhenald Kasali Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menilai tingginya jumlah pengangguran dari kelompok tenaga terdidik itu tidak bisa hanya dilihat dari kualitas lulusan perguruan tinggi.
Kondisi industri yang seharusnya menyerap mereka, menurutnya juga sedang berubah. Sejumlah sektor mengalami perlambatan, sementara perkembangan teknologi membuat sebagian pekerjaan yang sebelumnya butuh banyak tenaga manusia, kini mulai berkurang.
Contohnya sektor manufaktur yang belakangan menghadapi tekanan. Penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) jadi salah satu indikator bahwa sektor itu juga sedang menghadapi ujian.

NOW ON AIR SSFM 100

