Kondisi serupa bahkan bisa terjadi pada profesi dengan pendidikan khusus seperti dokter. Biaya menempuh pendidikan kedokteran bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Tapi pendapatan pada tahun-tahun awal bekerja di rumah sakit, belum tentu sebanding dengan investasi pendidikan yang sudah dikeluarkan.
Akibatnya, sebagian lulusan kemudian memilih jalur lain, mulai berbisnis, menjadi influencer hingga bekerja sebagai aparatur sipil negara tanpa menjalankan praktik kedokteran.
“Ini kan menjadi persoalan sendiri, sehingga mereka kemudian ‘ah daripada saya praktik sebagai dokter lebih baik saya jualan sepatu’. Ada kan yang seperti itu? ‘Lebih baik saya jadi jadi influencer begitu’, ‘lebih baik saya menjadi KOL atau menjadi PNS begitu,” ungkapnya.
Menurut Rhenald, fenomena itu memperlihatkan bahwa persoalan tenaga kerja tidak cukup dibaca hanya dari apakah pendidikan seseorang sesuai dengan pekerjaannya.
Ada persoalan kecocokan antara pekerjaan yang tersedia, penghasilan yang ditawarkan, minat pekerja, serta perubahan struktur industri. Pada saat yang sama, kemampuan industri menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar juga mengalami perubahan akibat teknologi.

NOW ON AIR SSFM 100

