Pasar saat ini memperkirakan inflasi AS pada Juni 2026 melambat menjadi 3,9 persen secara tahunan. Namun, inflasi inti diperkirakan masih bertahan di level 2,9 persen.
“Ini penting karena jika inflasi inti tetap membandel, ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi lebih lama akan menguat, dolar AS kembali diminati, dan rupiah kembali tertekan,” kata Josua.
Selain faktor inflasi AS, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi tekanan terhadap rupiah. Harga minyak Brent tercatat naik 3,43 persen secara harian menjadi 78,6 dolar AS per barel dan telah meningkat 29,2 persen sejak awal tahun.
Menurut Josua, kenaikan harga minyak biasanya memberikan tekanan terhadap rupiah karena Indonesia masih menjadi negara pengimpor minyak bersih. Jika harga minyak bertahan tinggi, pasar akan memperhitungkan dampaknya terhadap impor energi, subsidi, inflasi, neraca transaksi berjalan, hingga cadangan devisa.
Dari sisi domestik, terdapat sentimen positif setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.

NOW ON AIR SSFM 100

