Senin, 29 April 2024

Istana Angkat Bicara Terkait Aktor Politik Demonstrasi

Laporan oleh Tito Adam Primadani
Bagikan
Johan Budi. Foto : Antara

Istana Kepresidenan melalui Johan Budi Staf Khusus Presiden angkat bicara terkait aktor politik yang diduga menggerakkan aksi pada 4 November 2016.

“Ada salah satu tokoh kiai menanyakan tentang apa benar ada aktor politik. Yang dimaksud Presiden begini, bukan demo itu kemudian digerakkan oleh aktor politik, bukan. Demo itu murni meminta penegakan hukum dilakukan secara adil,” kata Johan Budi di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (10/11/2016).

Hal itu disampaikan Johan Budi setelah acara silaturahim Presiden Jokowi dengan kyai dan ulama pimpinan pondok pesantren di wilayah Banten dan Jawa Barat di Istana Negara, Jakarta.

Menurut Johan, Presiden tidak asal bicara saat menyampaikan sikapnya terkait 4 November 2016.

Presiden Jokowi, kata Johan, sudah mendapatkan banyak masukan dari para pembantunya terkait adanya pihak-pihak yang mencoba menggerakkan massa terlibat dalam kericuhan dalam aksi damai tersebut.

“Terkait siapa yang memanfaatkan, Presiden kemarin menyebut ada aktor politik. Tentu Presiden tidak asal bicara, tentu sudah mendapat masukan dari pembantunya bahwa ada yang mencoba,” katanya.

Namun ia sendiri berpendapat aksi 4 November 2016 dengan kekuatan massa yang sangat besar termasuk unjuk rasa yang damai.

Kepada Ulama, Presiden Jokowi menyatakan bahwa pada saat aksi berlangsung 4 November2016, sebenarnya dia ingin dekat dengan rakyatnya.

“Presiden ingin ikut shalat Jumat di Istiqlal minggu lalu dan disampaikan itu, artinya bukannya tidak mau. Aturan protokoler, aturan keamanan, posisinya kan Presiden simbol negara sehingga disarankan oleh pembantu-pembantu beliau, Kapolri, Panglima, BIN dan menteri-menteri terkait untuk tidak ke sana. Demi keamanan dari Presiden sendiri,” katanya.

Dia menegaskan, Presiden memiliki aturan protokoler meskipun sebenarnya ingin dekat dengan rakyatnya.

Dilansir Antara, Johan juga membantah saat Presiden melakukan kerja seperti biasa sama artinya meremehkan rakyat yang turun unjuk rasa.

“Kita ketahui bersama Presiden melakukan kerja seperti biasa ya, pagi masih menerima (tamu), itu bukan mengecilkan arti unjuk rasa, bukan. meski ada hal ini, pekerjaan kan tetep harus dilakukan,” katanya. (ant/tit)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Mobil Tertimpa Pohon di Darmo Harapan

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Surabaya
Senin, 29 April 2024
30o
Kurs