Karena itu, warga diminta tidak memberi makan, tidak mengejar, dan tidak menjadikan monyet tersebut sebagai tontonan. Tindakan itu, disebutnya justru bisa membuat satwa merasa terancam dan mempersulit proses evakuasi. Ia juga mengingatkan, monyet yang merasa terganggu bisa berubah agresif.
“Karena ketika satwa liar dia berkeliaran agak susah kita untuk mengevakuasinya ataupun menangkap. Jadi kita perlu mantau dulu lihat kebiasaan dia. Kalau dia tidak tertekan atau dia tidak terganggu dan dia tidak stres biasanya dia akan lebih tenang mau diberi makan. Jadi kepada masyarakat jangan memberi makan, jangan mengganggu, seakan ya ketika ada dia seakan enggak ada siapa-siapa gitu loh biar dia tenang,” ujarnya.
Setelah berhasil dievakuasi, monyet tidak langsung dilepas begitu saja. BKSDA akan membawa satwa tersebut ke tempat rehabilitasi untuk dilatih kembali hidup berkelompok dan mencari makan sendiri sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya.
“Jadi, disekolahkan lagi gitu. Dia liar, dibentuk suatu kelompok dan dia harapannya ketika mau dilepas di alam, dia sudah survive dulu. Mampu nanti untuk mencari makan lagi di alam. Harapannya sudah enggak terlalu tergantung dengan manusia gitu. Kalau untuk pusat rehabilitasinya ada di Cikole (Jawa Barat),” jelasnya. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

