Upaya pencegahan dan penanganan Tuberkulosis (TBC) di Kota Surabaya terus diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, khususnya di lingkungan sekolah.
Febrina Kusumawati Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya menjelaskan, penanganan kasus TBC di sekolah dilakukan dengan pendekatan manajemen khusus agar tidak menjadi sumber penularan yang lebih luas.
Guru, siswa, maupun tenaga pendidikan yang teridentifikasi positif TBC sementara waktu tidak diperkenankan mengikuti kegiatan tatap muka secara langsung.
“Anak yang positif TBC, ada sekian anak, ada sekian guru, ada sekian tenaga pendidikan tidak bisa kita biarkan begitu saja. Maka yang kami lakukan adalah memfasilitasi untuk tidak bertemu secara langsung, karena TBC itu menular. Sekolah tetap dilakukan, tetapi anak-anak tidak menjadi titik sebaran yang lebih luas lagi ke sekolah-sekolah,” ujarnya dalam acara Pertemuan Hexahelix Upaya Kelurahan Siaga TBC di Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya, Kamis (30/4/2026).
Meski demikian, hak pendidikan siswa tetap menjadi prioritas. Pihak sekolah, kata Febrina, tetap memfasilitasi proses pembelajaran bagi siswa yang sedang menjalani pengobatan, agar tetap dapat mengikuti pendidikan dan pendampingan secara daring.
“Pendidikan itu hak anak-anak kita. Jadi tidak boleh kita menahan mereka karena kondisi TBC. Solusinya adalah pendidikan tetap difasilitasi agar mereka tetap bisa mendapatkan haknya,” tambahnya.
Guru Bimbingan Konseling (BK) juga akan memberikan pendampingan khusus bagi siswa yang sedang menjalani pengobatan. Tujuannya, untuk memastikan proses belajar tetap efektif meskipun siswa tidak berada di kelas reguler.
“Tidak mudah memang memisahkan anak dengan teman-temannya, tetapi kami berupaya memberikan pendampingan agar proses belajar tetap efektif. Progres belajar mereka juga terus dimonitor hingga masa pengobatan selesai,” katanya.
Dalam penanganan kasus TBC, koordinasi dilakukan secara berjenjang antara Dispendik, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan. Ia juga mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan apabila menemukan anak dengan gejala batuk berkepanjangan agar dapat segera diperiksa secara medis.
“Kalau di lingkungan anda ada anak yang sering batuk dan perlu dicek, bisa langsung berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan atau Puskesmas. Kalau teridentifikasi, kami akan segera memfasilitasi agar anak tersebut tetap bisa belajar,” jelasnya.
Di sisi pencegahan, sekolah juga didorong untuk memperhatikan sirkulasi udara di ruang kelas serta menerapkan kebiasaan hidup bersih, seperti mencuci tangan dan menjaga jarak. Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir risiko penularan TBC di lingkungan sekolah.
Melalui kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, dan masyarakat dalam forum tersebut, diharapkan upaya pengendalian TBC dapat berjalan lebih efektif serta mampu melindungi kesehatan anak-anak sekaligus menjaga keberlangsungan pendidikan mereka. (rzl/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

