Senin, 15 Juni 2026

Neurolog: Perubahan Iklim Buat Waktu Tidur Manusia Berkurang hingga 58 Jam per Tahun

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi mencoba tidur dengan kipas angin di tengah suhu udara yang panas. Foto: Sleep.com

Persoalan kurang tidur kini disebut sudah berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat, yang berdampak pada produktivitas ekonomi, kualitas hidup, bahkan keberlanjutan lingkungan.

Dalam artikel yang diterbitkan jurnal Cell Reports Medicine pada Mei 2026, tim peneliti internasional menggambarkan munculnya epidemi tidur yang diam-diam memperburuk kesehatan masyarakat.

Penyebabnya bukan hanya karena satu faktor tunggal, tapi kombinasi berbagai paparan. Mulai polusi cahaya, kebisingan, pencemaran udara, dan suhu udara yang semakin panas.

Lalu faktor lainnya seperti kerja shift, jam kerja panjang, tekanan ekonomi, serta budaya digital yang membuat orang terus scrolling media sosial untuk terhubung sepanjang waktu. Belum lagi kondisi internal seperti seperti stres, kurang olahraga, pola makan buruk, konsumsi alkohol, hingga rokok dan kafein.

Terkait hal ini, dr. Bimo Dwi Lukito Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit (RS) Menur Provinsi Jawa Timur (Jatim) memaparkan bahwa gangguan tidur memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada yang selama ini dipahami masyarakat.

Tidak hanya memengaruhi kesehatan individu, dia membenarkan kualitas tidur berkaitan dengan lingkungan hingga kesehatan planet secara keseluruhan. Contohnya perubahan iklim, peningkatan suhu bumi, hingga tingginya polusi suara di kawasan perkotaan jadi faktor yang memengaruhi kualitas tidur masyarakat.

Bahkan, berdasarkan proyeksi global, manusia dapat kehilangan waktu tidur rata-rata 50 hingga 58 jam per tahun akibat perubahan kondisi lingkungan tersebut.

“Nah, diproyeksikan dalam satu tahun ini orang itu akan berkurang jam tidurnya 50-58 jam. Kenapa kok bisa ya? Ternyata dilihat-lihat kalau dari faktor lingkungannya itu suhu dunia (bumi) ya semakin meningkat, kan jadi tidur tuh panas ya, sulit tidurnya. Kalau bisa tidur ya enggak nyenyak juga,” ungkap dr. Bimo saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (15/6/2026).

Dia juga mengungkapkan, faktor sulit tidur karena suhu planet yang panas itu paling banyak di rasakan masyarakat terutama di negara yang kurang terlalu kuat secara ekonomi.

“Ngefek itu, terutama untuk yang terutama negara dengan ekonomi yang kurang kuat, banyak masyarakat yang belum bisa membeli pendingin (AC) gitu, itu akan mempengaruhi sekali, kasihan sekali itu,” bebernya.

Pentingnya kualitas tidur dari kaca mata neurologi

Sementara dari sisi neurologi, dr. Bimo menjelaskan bahwa tidur merupakan fase penting ketika otak melakukan proses pemulihan dan pembersihan sisa-sisa racun yang ada di dalam tubuh.

Saat tidur nyenyak atau deep sleep, otak membuang limbah metabolisme yang menumpuk selama aktivitas sehari-hari. Proses ini berperan penting dalam menjaga kestabilan emosi, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mengoptimalkan fungsi kognitif.

“Kalau memang untuk manusia ya tentu tidur itu perlu ya. Kalau untuk kesehatan, fungsi emosi, perbaikan emosi mental kita waktu tidur, perbaikan daya tahan tubuh, perbaikan dari fisik, jantung, hormon semuanya ada di dalam tidur ya. Bayangkan kalau tidurnya enggak nyenyak, daya tahan tubuh menurun, mikirnya sulit, kerja enggak bisa konsentrasi, bawaannya marah-marah terus,” ungkap Neurolog RS Menur itu.

Ia juga memamaprkan kebutuhan tidur berbeda pada setiap kelompok usia. Secara umum, rekomendasi durasi tidur ideal meliputi 14–17 jam per hari untuk bayi baru lahir yang berusia kurang dari tiga bulan. Kemudian 10-13 jam untuk anak usia 3-5 tahun, remaja 8-10 jam per hari, serta dewasa dan lansia 7-9 jam per hari.

Pada kesempatan itu, dr. Bimo juga meluruskan anggapan bahwa lansia cukup tidur 4–5 jam sehari. Menurutnya, hanya sebagian kecil orang yang secara genetik memiliki pola tidur pendek, namun tetap mendapatkan kualitas tidur dalam yang baik.

“Nah, tapi sebagian besar orang memang membutuhkan tadi lagi sesuai penelitian 7 jam sampai 9 jam tadi itu lebih baik. Jadi tiap orang nanti lihat-lihat dulu kalau memang biasanya segitu (jam tidurnya) sudah segar, sudah bisa aktivitas dengan baik, dari dulu (kebiasaannya) juga seperti itu ya silakan,” jelasnya.

Ia juga tidak menganjurkan kebiasaan balas dendam menambah durasi waktu tidur di akhir pekan, akibat kurangnya tidur di hari-hari kerja.

“Memang idealnya tidur itu sesuai jam tidur, jam-jam bangunnya. Jangan berbeda-beda dari segi jamnya. Baik itu waktu libur. Nanti kalau Minggu tidurnya sampai siang aja gaspol, waduh, ya, itu memang kurang baik tadi. Jadi kelebihan nanti jadinya tidurnya. Idealnya tetap diusahakan 7 jam, supaya fungsi kognitif kita kerja lebih produktif,” kata dr. Bimo.

Ia menjelaskan jadwal tidur yang tidak konsisten dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, antara lain penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, serangan jantung, dan stroke. Selain itu diabetes melitus akibat terganggunya sensitivitas insulin dan pengaturan gula darah.

Karenanya, untuk menjaga kualitas tidur, dr. Bimo menyarankan penerapan sleep hygiene atau kebiasaan yang mendukung tidur sehat. Mulai dari membatasi penggunaan gawai sebelum tidur. Hindari penggunaan ponsel, laptop, atau televisi setidaknya 45 menit hingga satu jam sebelum tidur karena cahaya biru (blue light) dapat menghambat produksi hormon melatonin.

“Terus yang kedua, makan berat itu hindari sebelum tidur 2 jam paling enggak. Iya iya iya. Itu kan nanti mengganggu kualitas tidur kita. Terus olahraga juga jangan olahraga yang berat sebelum tidur,” bebernya.

Ketiga mengurangi konsumsi kafein berlebihan, terutama pada sore hari. “jangan di atas jam 15.00 atau jam 16.00 sore WIB. Karena itu juga bisa mengganggu tidur,” ungkapnya.

Kemudian menghindari rokok dan vape. Menurutnya zat stimulan dari rokok dan vape dapat mengganggu proses tidur dan menurunkan kualitas istirahat. Terakhir, dr. Bimo menyarankan mengelola stres dan beban pikiran. Hindari aktivitas yang memerlukan konsentrasi tinggi atau memikirkan pekerjaan berat menjelang waktu tidur.

“Banyak sekali itu yang kita harus aware, baik diri kita mungkin atau saudara yang kita ingatkan untuk terkait dengan sleep hygiene tadi,” pungkasnya. (bil/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Senin, 15 Juni 2026
33o
Kurs